Appi Dinilai Tetap Jadi Kekuatan Politik Besar di Makassar

- Pewarta

Jumat, 28 Agustus 2026 - 09:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Oleh: Mulawarman

Jurnalis Senior

MAKASSARTIME.COM — Dinamika politik yang berkembang di internal Partai Golkar setelah Munafri Arifuddin atau Appi tidak terpilih sebagai Ketua DPD I Golkar Sulawesi Selatan tidak semestinya dibaca sebagai tanda melemahnya posisi politik Wali Kota Makassar tersebut.

Sebaliknya, situasi itu justru dapat menjadi momentum baru bagi Appi untuk memperluas ruang gerak politiknya. Dengan posisi sebagai Wali Kota Makassar, kota terbesar di kawasan Indonesia Timur, Appi masih memiliki modal politik, sosial, dan elektoral yang besar.

Karena itu, anggapan bahwa Appi hanyalah politisi biasa yang kehilangan daya tawar karena kalah dalam kontestasi internal Golkar terlalu sederhana untuk menggambarkan perjalanan politiknya.

Appi memiliki rekam jejak panjang dalam menghadapi dinamika politik Makassar. Ia telah dua kali mengalami kekalahan dalam Pilkada sebelum akhirnya memenangkan Pilwali Makassar 2024.

Pada Pilkada 2018, Appi berhadapan dengan fenomena kotak kosong. Dua tahun kemudian, ia kembali mengalami kekalahan pada Pilkada 2020. Namun, dua kekalahan tersebut tidak membuatnya meninggalkan Makassar atau menarik diri dari dunia politik.

Sebaliknya, Appi tetap bertahan. Ia kemudian mengambil alih kepemimpinan DPD II Golkar Makassar dan membangun kembali basis politiknya di tingkat akar rumput.

Proses tersebut akhirnya berbuah kemenangan. Pada Pilwali Makassar 2024, Appi berhasil memenangkan kontestasi dan dilantik sebagai Wali Kota Makassar pada Februari 2025.

Kemenangan itu sekaligus membawa Golkar kembali memperkuat posisinya di Makassar. Di bawah kepemimpinannya, perolehan kursi Golkar di DPRD Makassar juga bertambah.

Bagi saya, perjalanan tersebut menunjukkan satu karakter penting dalam diri Appi: daya tahan politik.

Di kota seperti Makassar, kemampuan bertahan setelah mengalami kekalahan politik bukan perkara sederhana. Seorang politisi tidak hanya dituntut memiliki modal elektoral, tetapi juga kemampuan menjaga jaringan, membangun komunikasi, dan mempertahankan kepercayaan basis politik.

Appi telah melewati fase tersebut.

Bukan Politisi Konvensional

Kini, sebagai Wali Kota Makassar, Appi juga tampil dengan karakter kepemimpinan yang berbeda dibandingkan sejumlah pendahulunya.

Ia tidak terlalu menonjolkan citra birokratis. Pendekatannya lebih fungsional dan berorientasi pada target serta eksekusi program.

Latar belakangnya sebagai mantan penyiar radio dan pengalaman memimpin sejumlah perusahaan di sektor otomotif, properti, serta jasa keuangan ikut membentuk gaya komunikasinya.

Appi cenderung menyampaikan gagasan secara terstruktur dengan pendekatan yang menyerupai manajemen perusahaan: menetapkan target, mengevaluasi capaian, lalu mendorong eksekusi.

Hal tersebut terlihat dari sejumlah agenda pemerintahannya yang menyentuh langsung persoalan sehari-hari warga, mulai dari penataan juru parkir, pedagang kaki lima, disiplin lalu lintas, hingga pembenahan sistem persampahan.

Karena itu, Appi sulit ditempatkan dalam kategori politisi konvensional.

Ia datang dengan latar belakang dan gaya politik yang berbeda. Dan satu hal yang tidak boleh dilupakan: Appi adalah seorang pemenang.

Kemenangannya tidak hanya tercatat dalam Pilwali Makassar. Sebelum terjun lebih jauh ke politik, Appi juga pernah memimpin PSM Makassar dan membawa klub tersebut meraih dua gelar, yakni Piala Presiden dan Liga Indonesia.

Hari ini, Munafri Arifuddin telah menjadi bagian dari perjalanan politik dan sosial Kota Makassar.

Karena itu, setiap upaya untuk mereduksi posisi politiknya, termasuk melalui dinamika internal partai, perlu dibaca secara lebih hati-hati.

Jika Keluar dari Golkar

Jika dinamika tersebut pada akhirnya mendorong Appi keluar dari Golkar, langkah itu tidak otomatis berarti berakhirnya karier politiknya.

Justru sebaliknya, perpindahan partai dapat menjadi momentum bagi Appi untuk memperoleh ruang politik yang lebih luas.

Sebagai wali kota aktif di kota terbesar di Indonesia Timur, Appi masih merupakan aset politik yang memiliki nilai tawar tinggi.

Sejumlah partai secara logis dapat menjadi alternatif. Partai Demokrat, misalnya, telah menunjukkan keterbukaan terhadap kemungkinan tersebut.

Partai Gerindra juga memiliki kekuatan politik yang besar di Sulawesi Selatan. Namun, di partai tersebut Appi tentu akan berhadapan dengan konfigurasi politik yang sudah terbentuk, termasuk keberadaan Andi Iwan Aras, sesama alumni SMA Negeri 2 Makassar yang juga memiliki basis dan jalur politik sendiri.

Generasi politik Sulawesi Selatan saat ini memang tengah mengalami pergantian. Nama-nama seperti RMS, Andi Iwan Aras, Appi, Andi Ina Kartika Sari, Rudianto Lallo, Andi Rahmatika Dewi, hingga Syaharuddin Alrif merupakan bagian dari generasi yang sedang memainkan peran penting dalam politik daerah.

Namun, menurut saya, salah satu pilihan yang paling menarik bagi Appi adalah Partai NasDem.

Mesin Politik yang Tangguh

NasDem memiliki kekuatan politik yang signifikan di Sulawesi Selatan dan Makassar. Jika kekuatan politik Appi bertemu dengan mesin politik NasDem, bukan tidak mungkin akan terbentuk konfigurasi politik baru yang memiliki daya tawar besar.

Secara historis, hubungan antarelite politik di Sulawesi Selatan juga sangat cair. Perpindahan kader dan penggabungan kekuatan dari partai yang berbeda bukan sesuatu yang asing dalam dinamika politik daerah.

Karena itu, hubungan antara jaringan politik yang berada di belakang Appi dengan sejumlah elite NasDem tidak serta-merta menjadi penghalang.

Kedekatan personal antara sejumlah tokoh NasDem dengan Appi juga dapat menjadi modal komunikasi politik jika kemungkinan tersebut benar-benar terbuka.

NasDem sendiri memiliki pengalaman menarik kader berlatar belakang Golkar untuk kemudian menjadi bagian penting dalam struktur partainya. Dengan mesin politik yang kuat di Makassar dan Sulawesi Selatan, kehadiran Appi dapat menciptakan konfigurasi baru.

Maka, jangan terburu-buru menganggap bahwa keluar dari Golkar merupakan akhir perjalanan politik Munafri Arifuddin.

Bisa jadi, justru sebaliknya.

Keluar dari Golkar dapat menjadi momentum kebebasan politik bagi Appi.

Selama berada di Golkar, ruang gerak Appi tentu dipengaruhi oleh dinamika internal, faksionalisme, dan konfigurasi elite partai. Jika kemudian ia berpindah ke partai yang memberikan ruang politik lebih luas, daya geraknya dapat menjadi lebih lincah.

Pada titik itu, lawan-lawan politik Appi di masa depan justru harus menghitung ulang kekuatannya.

Sebab, Appi bukan politisi yang lahir dari satu momentum.

Ia telah mengalami kekalahan, bertahan, membangun kembali basis, kemudian memenangkan pertarungan.

Karena itu, satu hal yang perlu diingat dalam membaca perjalanan politik Munafri Arifuddin: jangan remehkan Appi.

Berita Terkait

Makassar Borong Juara GSI Sulsel 2026, Beasiswa Disiapkan
Kurangi Mobilitas, Pemkot Makassar Terapkan Pembelajaran Daring PAUD Hingga SMP Mulai Besok
Cek Antrean BBM, Appi Minta Seluruh Fasilitas SPBU Difungsikan
Pertamina Klaim Stok BBM Aman, Warga Makassar Masih Antre Berjam-jam
Antrean BBM Tak Kunjung Terurai, Appi Minta Atur Jadwal Antrean Bus dan Truk di SPBU
Pemerataan Pendidikan Sampai Wilayah Kepulauan Antar Makassar Raih Penghargaan Nasional
Kekeringan Meluas, BPBD Makassar Distribusikan Air Bersih ke 161 Titik
Appi Bekali Ribuan Maba Bosowa Jadi Bagian dari Pembangunan Makassar

Berita Terkait

Minggu, 13 September 2026 - 22:16 WIB

Makassar Borong Juara GSI Sulsel 2026, Beasiswa Disiapkan

Jumat, 11 September 2026 - 15:41 WIB

Cek Antrean BBM, Appi Minta Seluruh Fasilitas SPBU Difungsikan

Jumat, 11 September 2026 - 14:33 WIB

Pertamina Klaim Stok BBM Aman, Warga Makassar Masih Antre Berjam-jam

Jumat, 11 September 2026 - 13:35 WIB

Antrean BBM Tak Kunjung Terurai, Appi Minta Atur Jadwal Antrean Bus dan Truk di SPBU

Kamis, 10 September 2026 - 13:45 WIB

Pemerataan Pendidikan Sampai Wilayah Kepulauan Antar Makassar Raih Penghargaan Nasional

Berita Terbaru

Info Makassar

Makassar Borong Juara GSI Sulsel 2026, Beasiswa Disiapkan

Minggu, 13 Sep 2026 - 22:16 WIB

Opini

Makassar dan Politik Sampah dari Hilir

Minggu, 13 Sep 2026 - 12:22 WIB

Uncategorized

Kisruh BBM dan LPG di Sulsel, Warakaf Desak Presiden Copot Bahlil

Sabtu, 12 Sep 2026 - 12:48 WIB