MAKASSARTIME.COM— Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin meminta Pertamina mengatur antrean bus dan truk di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) untuk mengurai kepadatan kendaraan yang terjadi di sejumlah titik di Kota Makassar.
Munafri mengusulkan kendaraan besar memiliki waktu antre khusus, yakni mulai pukul 21.00 hingga 05.00 WITA. Pengaturan itu dinilai penting agar antrean bus dan truk tidak mengganggu mobilitas masyarakat pada siang hari.
Hal itu disampaikan usai Munafri temui petinggi pertamina patra niaga regional sulawesi. Jumat (11/9/2026)
“Truk dan bus harus diatur waktunya. Jangan mereka antre pada saat orang semua mau pergi sekolah dan melakukan aktivitas keseharian. Ini memakan jalan terlalu banyak,” kata Munafri seusai bertemu jajaran Pertamina, Jumat (11/9).
Ia juga meminta Pertamina melakukan klasterisasi SPBU berdasarkan jenis kendaraan. Sejumlah SPBU dapat dikhususkan untuk bus dan truk, sedangkan SPBU lainnya diprioritaskan bagi kendaraan masyarakat.
“Harus ada khusus untuk kendaraan pribadi yang tidak boleh diganggu sama bus. Bus itu panjang-panjang,” ujarnya.
Menurut Munafri, tidak semua SPBU memiliki kondisi jalan dan kapasitas yang sama. Antrean kendaraan besar di SPBU yang berada di ruas jalan sempit justru berpotensi menimbulkan kemacetan dan mengganggu aktivitas warga.
“Kalau jalannya kecil, terus di situ antre bus, ya macetlah semuanya, buntu semuanya,” katanya.
Munafri mengatakan persoalan antrean BBM kini tidak bisa ditangani dengan pola pelayanan normal. Pemerintah dan Pertamina perlu mengambil langkah taktis untuk segera mengurai antrean.
Baca Juga:
Kurangi Mobilitas, Pemkot Makassar Terapkan Pembelajaran Daring PAUD Hingga SMP Mulai Besok
Dugaan Kelalaian RS Paramount dalam Kematian Cucu Taufan Pawe, Keluarga Siapkan Langkah Hukum
Cek Antrean BBM, Appi Minta Seluruh Fasilitas SPBU Difungsikan
“Kalau kondisi ini bukan kondisi normal, penanganannya juga jangan lagi dalam kondisi normal. Kita harus menormalisasi kondisi yang sekarang ini,” tegasnya.
Minta Seluruh SPBU Dioptimalkan
Selain mengatur kendaraan besar, Munafri meminta seluruh SPBU di Makassar mengoptimalkan fasilitas yang tersedia. Dispenser yang ada harus dipastikan aktif, sementara jumlah operator juga perlu disesuaikan dengan kebutuhan pelayanan.
“Yang paling pertama adalah optimalisasi semua SPBU yang ada. Dispenser yang ada harus semuanya aktif,” ujarnya.
Baca Juga:
Pertamina Klaim Stok BBM Aman, Warga Makassar Masih Antre Berjam-jam
GTA Vol.3 Yamaha Aerox Kembali Digelar di Makassar, All Riders Aerox Dipanggil
Pemerataan Pendidikan Sampai Wilayah Kepulauan Antar Makassar Raih Penghargaan Nasional
Jika terjadi kekurangan operator, Munafri mengatakan Pemkot Makassar siap memberikan dukungan personel yang dapat dilatih untuk membantu pelayanan di SPBU.
“Kalau tidak cukup orangnya, kasih tahu kepada kita. Bisa ditraining kilat untuk kita kasih orang-orang kita, apakah ketua RT, RW yang bisa membantu menjadi operator,” katanya.
Ia juga mendorong optimalisasi operasional SPBU selama 24 jam. Langkah tersebut diharapkan dapat memperpanjang waktu pelayanan sekaligus membantu mengurangi penumpukan kendaraan pada jam-jam tertentu.
Munafri mengatakan dampak antrean BBM sudah dirasakan pada berbagai aktivitas masyarakat. Bahkan, pelayanan persampahan ikut terganggu karena kendaraan pengangkut sampah mengalami keterlambatan mendapatkan BBM.
“Truk-truk pengangkut sampah ini terlambat semuanya. Motor-motor pengangkut sampah terlambat semua. Orang-orang yang mau pergi sekolah, mau ke mana, terlambat semuanya,” ujarnya.
Karena itu, ia meminta pengaturan antrean dilakukan secara menyeluruh dengan melibatkan seluruh pihak, termasuk kepolisian dan TNI.
Baca Juga:
Kekeringan Meluas, BPBD Makassar Distribusikan Air Bersih ke 161 Titik
Appi Bekali Ribuan Maba Bosowa Jadi Bagian dari Pembangunan Makassar
Pemkot Makassar Perluas Distribusi Air Bersih hingga 157 Titik
“Satgasnya kan sudah dibentuk, dan kami akan mengoptimalisasi satgas ini untuk memastikan kondisi-kondisi ini bisa berjalan dengan baik,” katanya.
Strategi Disusun Akhir Pekan
Munafri mengatakan Pemkot Makassar bersama Pertamina akan menyusun strategi pengaturan SPBU pada akhir pekan. Pemetaan itu mencakup SPBU yang dapat melayani kendaraan besar dan SPBU yang diprioritaskan bagi kendaraan pribadi.
“Kami minta setelah ini Sabtu-Minggu kita menyusun rencana strategis untuk memastikan SPBU mana yang sudah diklaster, mana yang tidak boleh bercampur, dan mana yang khusus untuk bus dan sebagainya,” katanya.
Ia berharap pengaturan tersebut mulai diterapkan pada sejumlah SPBU pada awal pekan depan.
“Insyaallah kita mencoba membicarakan ini, mudah-mudahan Senin beberapa SPBU sudah bisa kita maksimalkan,” ujarnya.
Munafri menegaskan pemerintah harus hadir memastikan masyarakat tetap mendapatkan pelayanan di tengah persoalan antrean BBM.
“Masyarakat itu dilayani, bukan dikorbankan,” tegasnya.
Pertamina Siapkan Penambahan SPBU 24 Jam
Sementara itu, EGM Pertamina Patra Niaga Regional Sulawesi Deny Sukendar mengatakan Pertamina mengapresiasi dukungan Pemkot Makassar dalam menangani antrean BBM.
Deny mengatakan Pertamina terus menjaga ketersediaan stok dan menyalurkan BBM ke SPBU, termasuk melalui sejumlah SPBU yang beroperasi selama 24 jam.
“Kita menyiapkan stok, kita salurkan terus berkepanjangan, tidak putus, melalui juga SPBU yang kita buka 24 jam,” kata Deny.
Saat ini, kata dia, terdapat 25 SPBU yang telah beroperasi selama 24 jam. Jumlah tersebut masih dapat ditambah apabila kondisi antrean membutuhkan penambahan waktu pelayanan.
“Jumlah SPBU nanti mungkin akan sangat dinamis mengikuti kondisi antrean. Jika diperlukan, tentu akan kita sesuaikan juga,” ujarnya.
Deny juga menyambut usulan klasterisasi SPBU dan pengaturan antrean berdasarkan jenis kendaraan. Pertamina akan berkoordinasi dengan Organda untuk mengatur kendaraan angkutan umum dan kendaraan besar.
“Terkait antrean, kita bagi antara antrean Solar dan Pertalite. Kendaraan roda dua maupun kendaraan besar ini akan kita coba klaster. Nanti juga akan kita koordinasikan dengan teman-teman dari Organda,” katanya.
Penyaluran BBM Ditambah
Deny mengatakan Pertamina telah meningkatkan penyaluran BBM dibandingkan kondisi normal. Penyaluran Solar disebut meningkat sekitar 15 persen, sedangkan Pertalite meningkat sekitar 8 persen dan sempat mencapai 10 persen.
“Ada penambahan. Tentu sudah meningkat penyaluran kami. Untuk Solar sudah berkisar di atas normal, sekitar 15 persen, dan Pertalite sudah 8 persen dan kemarin sudah mencapai 10 persen dari kondisi normal,” ujarnya.
Menurut Deny, kebutuhan setiap SPBU berbeda sehingga volume pasokan tidak dapat disamaratakan.
“Berbeda-beda memang, tergantung kebutuhan, karena setiap SPBU akan berbeda-beda juga kebutuhannya,” katanya.
Ia menyebut antrean panjang dipengaruhi sejumlah faktor, antara lain kebutuhan BBM dan disparitas harga. Pertamina bersama pemerintah dan Satgas Gabungan masih mendalami berbagai kemungkinan penyebab lainnya.
“Memang banyak faktor yang menyebabkan antrean. Jadi, baik itu kebutuhan, kemudian disparitas harga, dan yang lainnya. Ini yang sama-sama kita tindak lanjuti bersama,” ujarnya.
Terkait dugaan penimbunan BBM, Deny mengatakan pihaknya akan mendalaminya bersama Satgas Gabungan.
“Kalau itu kami nanti dalami bersama tim Satgas Gabungan untuk mengantisipasi,” katanya.
Deny memastikan Pertamina terus melakukan sejumlah langkah untuk memulihkan kondisi, mulai dari penambahan suplai, memperpanjang jam operasional SPBU hingga menertibkan antrean bersama Satgas Gabungan.
“Kami mohon dukungan seluruh pihak. Semoga segera bisa reda antrean di Kota Makassar dan semuanya kembali beraktivitas normal,” kata Deny.








