Dari Lorong, Menanam Kemandirian Pangan Kota

- Pewarta

Jumat, 4 September 2026 - 09:52 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Mashud Azikin

MAKASSARTIME.COM– Ketahanan pangan sering kali dibayangkan sebagai urusan sawah yang luas, lumbung yang penuh, atau kebun yang membentang jauh dari pusat kota. Padahal, di tengah kota yang semakin padat dan harga tanah yang terus meningkat, ketahanan pangan dapat dimulai dari ruang yang jauh lebih sederhana: dapur, pot tanaman, halaman sempit, dan lorong.

Pagi di Lorong Cerekang, Kamis (4/9/2026), tidak dimulai dengan sesuatu yang spektakuler.

Tidak ada hamparan sawah. Tidak ada kebun luas. Tidak ada traktor yang bergerak di antara tanaman. Yang ada adalah lorong kota dengan rumah-rumah yang berdempetan, ruang yang terbatas, dan kehidupan warga yang berlangsung seperti biasa.

Namun, di tengah keterbatasan itu, tumbuh sesuatu yang lebih penting daripada sekadar tanaman.

Pot-pot cabai dan jahe mulai mengisi ruang. Rak vertikal memanfaatkan bagian lorong yang sebelumnya tidak produktif. Komposter ditempatkan untuk mengolah sisa dapur. Tempat sampah terpilah dan timbangan bank sampah disiapkan untuk mengubah limbah menjadi sumber daya.

Lorong itu sedang belajar menjadi kebun.

Lebih dari itu, ia sedang belajar menjadi sebuah ekosistem kecil.

Perubahan tersebut merupakan bagian dari program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Ketahanan Pangan Agro Urban Madani PNM 2026 yang dilaksanakan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) bersama Yayasan Butta Porea di Kawasan Rumah Pintar PNM Sungai Cerekang, RW 03, Kelurahan Gaddong, Kecamatan Bontoala, Makassar.

Dalam program tersebut, PNM menyalurkan komposter aerob, komposter rumah tangga, 100 liter ecoenzyme, tempat sampah anorganik terpilah, timbangan bank sampah, serta 200 pot tanaman produktif yang terdiri atas 100 pot cabai dan 100 pot jahe.

Sekilas, semua itu mungkin terlihat sebagai bantuan sarana.

Tetapi gagasan di baliknya jauh lebih besar: bagaimana sebuah lorong dapat memenuhi sebagian kebutuhan pangannya sekaligus mengolah kembali sesuatu yang selama ini dianggap sebagai sampah.

Dapur sebagai Titik Awal

Barangkali kita terlalu lama membayangkan pertanian sebagai sesuatu yang harus berlangsung jauh dari rumah.

Sawah ada di desa. Kebun berada di pinggir kota. Pasar menjadi tempat bertemunya petani dan konsumen.

Kota kemudian tumbuh sebagai konsumen besar. Makanan masuk setiap hari, tetapi sisa makanan juga keluar setiap hari. Sebagian berakhir sebagai sampah dan menambah beban pengelolaan perkotaan.

Padahal, sisa nasi, kulit buah, sayuran, dan bahan organik dari dapur masih memiliki nilai. Ketika dibuang bercampur dengan sampah lain, sumber daya tersebut berubah menjadi beban. Sebaliknya, ketika dipilah dan diolah, ia dapat kembali menjadi bagian dari siklus kehidupan.

Komposter mengubah sisa organik menjadi bahan yang dapat dimanfaatkan untuk tanaman. Ecoenzyme juga menjadi salah satu bagian dari pendekatan pengelolaan bahan organik yang dikembangkan dalam program tersebut.

Dari dapur, bahan organik kembali ke tanah.

Dari tanah, tumbuh cabai dan jahe.

Dari tanaman, pangan kembali ke meja makan.

Siklus itu sederhana. Namun, justru kesederhanaannya yang penting.

Sebab, keberlanjutan sering kali bukan persoalan teknologi yang rumit, melainkan kemampuan manusia mengembalikan sesuatu ke dalam siklus yang bermanfaat.

Lorong Bukan Sekadar Jalan

Tenaga Ahli Wali Kota Makassar Bidang Urban Farming, Andi Fadly Arifuddin, melihat lorong sebagai ruang yang selama ini menyimpan potensi besar.

“Ketika sampah dapur diolah di tingkat rumah tangga menjadi pupuk, kemudian lorong-lorong dimanfaatkan secara optimal dengan tanaman produktif seperti cabai dan jahe, warga tidak lagi sekadar menjadi konsumen, tetapi juga produsen pangan mandiri di pekarangannya sendiri,” katanya.

Pernyataan itu membawa kita pada pertanyaan yang lebih mendasar: seberapa produktif sebuah kota memanfaatkan ruang hidupnya?

Selama ini, lorong sering dipahami sebagai ruang sisa. Ia hanya menjadi jalan untuk keluar-masuk rumah.

Padahal, dengan pendekatan yang tepat, lorong dapat menjadi taman, kebun, ruang interaksi sosial, sekaligus ruang produksi pangan.

Tidak harus luas.

Pertanian perkotaan memang tidak selalu membutuhkan tanah yang luas. Ia membutuhkan kreativitas dalam memanfaatkan ruang.

Pot dapat menggantikan bedengan. Rak vertikal menggantikan lahan horizontal. Dinding dapat menjadi ruang tumbuh. Atap dan halaman dapat menjadi kebun kecil.

Kota tidak harus kembali menjadi desa untuk menjadi hijau.

Kota hanya perlu mengingat bahwa kehidupan tidak selalu membutuhkan ruang yang sempurna untuk tumbuh.

Mengapa Cabai dan Jahe?

Pemilihan cabai dan jahe juga memiliki alasan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

Cabai hampir selalu hadir di dapur masyarakat Indonesia. Harganya yang kerap berfluktuasi bahkan menjadi perhatian rumah tangga dan pemerintah karena dapat memengaruhi tekanan inflasi.

Sementara itu, jahe bukan sekadar bumbu. Tanaman ini juga dikenal sebagai bahan herbal yang telah lama digunakan dalam tradisi keluarga.

Karena itu, menanam cabai dan jahe bukan hanya aktivitas bercocok tanam.

Ia merupakan latihan untuk mengurangi ketergantungan.

Satu pot cabai tentu tidak akan mengubah neraca pangan sebuah kota. Satu pot jahe juga tidak akan menjadikan sebuah keluarga sebagai petani.

Namun, ratusan, ribuan, bahkan puluhan ribu pot yang dirawat keluarga-keluarga di perkotaan dapat membangun sesuatu yang lebih penting: budaya memproduksi sebagian kebutuhan sendiri.

Ketahanan pangan memang tidak selalu dimulai dari lumbung besar.

Ia bisa dimulai dari satu pot.

Sampah yang Menjadi Sumber Daya

Ada bagian lain yang menarik dari model yang dikembangkan di Cerekang, yakni pengelolaan sampah anorganik.

Botol plastik, kardus, kertas, logam, dan berbagai material bernilai ekonomi tidak lagi semata-mata dipandang sebagai benda buangan.

Melalui bank sampah, material tersebut dapat dipilah, ditimbang, dicatat, dan dikonversi menjadi nilai ekonomi.

Hasilnya dapat menjadi kas kelompok untuk membeli bibit, merawat tanaman, atau membiayai kegiatan lingkungan.

Di titik ini, ekonomi sirkular bertemu dengan kehidupan warga.

Sampah organik kembali menjadi bagian dari media tanam.

Sampah anorganik kembali menjadi nilai ekonomi.

Tanaman menghasilkan pangan.

Dan warga menjadi pengelola dari seluruh siklus tersebut.

Karena itu, konsep Agro Urban Madani lebih dari sekadar kegiatan penghijauan. Ia mencoba membangun rantai nilai ekologis di tingkat yang paling dekat dengan kehidupan manusia: rumah dan komunitas.

Ketahanan Pangan adalah Kebiasaan

Kegiatan tersebut dihadiri Wakil Pemimpin Cabang PNM Makassar Sugiarto dan Erlina Jayanti Hutabarat, Camat Bontoala H. Patahullah, Lurah Gaddong Rahmawati Mattayang, serta unsur RT dan RW.

Hadir pula Andi Fadly Arifuddin, Anggota Dewan Lingkungan Hidup Kota Makassar Mashud Azikin, dan Ketua Yayasan Butta Porea Andi Pangerang Nur Akbar.

Kolaborasi tersebut memperlihatkan satu hal penting: ketahanan pangan perkotaan bukan pekerjaan satu lembaga.

Pemerintah memiliki kebijakan. Dunia usaha memiliki sumber daya. Organisasi masyarakat memiliki pengetahuan dan jejaring. Namun, warga tetap menjadi penentu apakah sebuah program akan hidup atau berhenti sebagai seremoni.

Tanaman tidak tumbuh karena seremoni.

Komposter tidak bekerja karena spanduk.

Bank sampah tidak berjalan hanya karena sambutan.

Semuanya membutuhkan kebiasaan.

Dan perubahan ekologis pada akhirnya selalu berhadapan dengan kebiasaan manusia.

Karena itu, keberhasilan Lorong Cerekang kelak tidak semestinya diukur dari berapa banyak pot yang dibagikan atau berapa banyak komposter yang diserahkan.

Ukuran sebenarnya adalah apakah beberapa bulan atau beberapa tahun dari sekarang warga masih memilah sampah, mengolah sisa dapur, merawat cabai dan jahe, serta memandang lorong sebagai ruang bersama.

Menanam Kemandirian dari Lorong

Di tengah kota yang semakin padat, gagasan tentang kemandirian pangan mungkin terdengar terlalu besar.

Namun, mungkin kita keliru memahami kata “mandiri”.

Mandiri bukan berarti sebuah lorong harus menghasilkan seluruh kebutuhan pangannya sendiri.

Mandiri berarti memiliki kemampuan untuk mengambil kembali sebagian kendali atas kebutuhan hidupnya.

Satu keluarga menanam cabai.

Keluarga lain menanam jahe.

Rumah berikutnya mengolah sampah organik.

Yang lain menyetorkan sampah anorganik ke bank sampah.

Ketika semuanya terhubung, lahirlah sebuah sistem.

Dan sistem itulah yang menjadi kekuatan sebuah komunitas.

Lorong Cerekang sedang mencoba membangun sistem tersebut.

Ia belum sempurna. Tanamannya masih muda. Kebiasaannya masih harus dibangun. Keberlanjutannya masih harus diuji oleh waktu.

Namun, setiap perubahan memang dimulai dari sesuatu yang kecil.

Dari sisa sayuran yang tidak lagi dibuang.

Dari satu pot cabai yang dirawat setiap pagi.

Dari jahe yang tumbuh di sudut lorong.

Dari seorang ibu yang mulai memilah sampah.

Dari seorang anak yang melihat bahwa sampah ternyata dapat menjadi bagian dari pupuk.

Dan dari warga yang perlahan menyadari bahwa lorong tempat mereka tinggal bukan sekadar jalan di antara rumah-rumah.

Ia adalah ruang hidup.

Di sanalah, barangkali, masa depan ketahanan pangan kota sedang ditanam.

Bukan di tempat yang jauh.

Tetapi tepat di depan pintu rumah kita sendiri.

Sebab kota yang berkelanjutan tidak selalu ditandai oleh gedung-gedung hijau atau teknologi mahal.

Kadang-kadang, tanda paling sederhana dari sebuah kota yang mulai dewasa adalah ketika warganya tahu ke mana sisa makanan harus pergi, dari mana pangan mereka berasal, dan bagaimana ruang sekecil lorong dapat memberi kehidupan.

Dari dapur menjadi kompos.

Dari kompos menjadi tanaman.

Dari tanaman menjadi pangan.

Dari pangan tumbuh kemandirian.

Begitulah sebuah lorong kecil dapat menjadi oase bagi masa depan kota.

Berita Terkait

Wali Kota Munafri Bawa Program Makassar Berjasa Raih Penghargaan Inovasi Membangun Negeri 2026
Appi Nahkodai PSSI Sulsel, Siapkan Pembenahan Sepak Bola
Lepas Kontingen ke Porprov XVIII, Appi Siapkan Bonus Bagi Atlet Berprestasi
Antisipasi Banjir, Pemkot Makassar Jajaki Teknologi Penyedot dan Penyemprot Air dari Jepang
Appi Tinjau Penimbunan Stadion Untia, Konstruksi Awal 2027
Rakornas TPAKD 2026, Appi Siap Tindak Lanjuti Arahan Presiden Prabowo
Appi Tekankan Profesionalitas Guru di Era Digital, AI Jadi Tantangan Pendidikan
Pemkot Makassar Perpanjang Kontrak 6.472 PPPK, 135 Tidak Diusulkan

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 06:00 WIB

Wali Kota Munafri Bawa Program Makassar Berjasa Raih Penghargaan Inovasi Membangun Negeri 2026

Selasa, 27 Oktober 2026 - 15:00 WIB

Appi Nahkodai PSSI Sulsel, Siapkan Pembenahan Sepak Bola

Selasa, 27 Oktober 2026 - 13:54 WIB

Lepas Kontingen ke Porprov XVIII, Appi Siapkan Bonus Bagi Atlet Berprestasi

Selasa, 27 Oktober 2026 - 12:28 WIB

Antisipasi Banjir, Pemkot Makassar Jajaki Teknologi Penyedot dan Penyemprot Air dari Jepang

Senin, 26 Oktober 2026 - 11:35 WIB

Appi Tinjau Penimbunan Stadion Untia, Konstruksi Awal 2027

Berita Terbaru

Info Makassar

Appi Nahkodai PSSI Sulsel, Siapkan Pembenahan Sepak Bola

Selasa, 27 Okt 2026 - 15:00 WIB

Info Makassar

Appi Tinjau Penimbunan Stadion Untia, Konstruksi Awal 2027

Senin, 26 Okt 2026 - 11:35 WIB