Oleh: Mashud Azikin
Pendiri Komunitas Manggala Tanpa Sekat
MAKASSARTIME.COM – Mencintai sebuah kota tidak cukup dengan mengucapkan kata-kata. Kecintaan kepada kota pada akhirnya diuji melalui apa yang dikerjakan ketika seseorang diberi kesempatan untuk memimpinnya.
Di situlah pembangunan Stadion Untia menjadi lebih dari sekadar proyek infrastruktur bagi Makassar. Stadion tersebut menjadi pertaruhan apakah sebuah janji politik dapat diterjemahkan menjadi sesuatu yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Bagi Munafri Arifuddin, pembangunan Stadion Untia bukan hanya tentang menghadirkan sebuah bangunan baru. Ada pertanyaan yang jauh lebih besar: warisan seperti apa yang hendak ditinggalkan kepada Kota Makassar?
Makassar adalah kota dengan ingatan panjang. Sejarahnya tersimpan di jalan-jalan, pelabuhan, pasar, lorong permukiman, pesisir, hingga sepak bola.
Bagi masyarakat Makassar, PSM bukan sekadar kesebelasan yang bertanding selama 90 menit. PSM merupakan bagian dari ingatan keluarga dan identitas kota.
Seorang ayah membawa anaknya ke stadion. Seorang kakek menceritakan pertandingan yang pernah disaksikannya puluhan tahun lalu. Anak-anak muda mengenakan jersey merah dengan kebanggaan yang sulit dijelaskan kepada mereka yang tidak pernah merasakan atmosfer sepak bola Makassar.
Identitas seperti itu tidak selalu lahir dari dokumen resmi. Ia tumbuh dari pengalaman bersama: suara tribun, pelukan setelah gol, tangis setelah kekalahan, dan teriakan ribuan orang yang untuk sesaat merasa menjadi satu.
Baca Juga:
Kisruh BBM dan LPG di Sulsel, Warakaf Desak Presiden Copot Bahlil
Lisa Melinda, Lady Biker Rasakan Manfaat GTA Aerox: Jangan Ragu Ikutan
Kurangi Mobilitas, Pemkot Makassar Terapkan Pembelajaran Daring PAUD Hingga SMP Mulai Besok
Karena itu, ketika Stadion Mattoanging hilang, yang hilang bukan hanya sebuah bangunan. Makassar kehilangan salah satu ruang yang selama puluhan tahun menjadi rumah emosional bagi masyarakat dan PSM.
Dalam konteks itulah Stadion Untia memperoleh makna yang lebih besar.
Stadion ini bukan sekadar kumpulan beton, rumput, tribun, dan fasilitas olahraga. Ia membawa harapan agar Makassar kembali memiliki rumah sepak bola yang dapat digunakan oleh generasi sekarang dan generasi berikutnya.
Harapan publik tentu tidak dapat diukur hanya melalui angka dalam dokumen anggaran. Harapan tumbuh dari percakapan, janji, dan keyakinan bahwa pemerintah masih mendengar kebutuhan masyarakat.
Baca Juga:
Dugaan Kelalaian RS Paramount dalam Kematian Cucu Taufan Pawe, Keluarga Siapkan Langkah Hukum
Cek Antrean BBM, Appi Minta Seluruh Fasilitas SPBU Difungsikan
Pertamina Klaim Stok BBM Aman, Warga Makassar Masih Antre Berjam-jam
Karena itu, ketika sebuah janji pembangunan mulai diwujudkan, yang patut dihargai bukan hanya proyeknya. Ada kepercayaan publik yang sedang dipertaruhkan.
Dalam konteks tersebut, Munafri Arifuddin sedang membangun hubungan antara janji dan kenyataan. Hubungan itu penting karena demokrasi tidak hanya membutuhkan suara rakyat dalam pemilihan, tetapi juga kepercayaan setelah pemilihan selesai.
Kita terlalu sering melihat politik yang piawai memproduksi janji, tetapi gagap menghadirkan hasil.
Janji disampaikan menjelang pemilihan. Baliho dipasang, spanduk dibentangkan, pidato disampaikan. Setelah itu, waktu berjalan. Sebagian janji berubah menjadi program, sebagian menjadi rapat, sebagian menjadi dokumen, dan sebagian lainnya berhenti pada kalimat yang sudah terlalu sering kita dengar: masih dalam proses.
Karena itu, ketika sebuah janji mulai menemukan bentuknya, masyarakat berhak memberikan apresiasi.
Apresiasi tidak berarti menghentikan kritik. Sebaliknya, kritik tetap diperlukan untuk memastikan pembangunan berjalan sesuai aturan, anggaran digunakan secara bertanggung jawab, dan hasil akhirnya benar-benar memberikan manfaat kepada masyarakat.
Baca Juga:
Antrean BBM Tak Kunjung Terurai, Appi Minta Atur Jadwal Antrean Bus dan Truk di SPBU
GTA Vol.3 Yamaha Aerox Kembali Digelar di Makassar, All Riders Aerox Dipanggil
Pemerataan Pendidikan Sampai Wilayah Kepulauan Antar Makassar Raih Penghargaan Nasional
Pemerintahan yang sehat adalah pemerintahan yang dapat dikritik ketika keliru dan diapresiasi ketika berhasil.
Kita tidak membutuhkan kultus kekuasaan. Kita juga tidak membutuhkan sinisme yang membuat setiap keberhasilan dianggap tidak berarti.
Yang dibutuhkan adalah sikap kritis sekaligus adil.
Di luar persoalan janji politik, Stadion Untia juga memiliki arti penting sebagai ruang publik.
Stadion adalah tempat orang bertemu. Di tribun, sekat sosial dapat menjadi lebih tipis. Masyarakat dari berbagai latar belakang duduk berdampingan dengan alasan yang sama: mendukung tim yang mereka cintai.
Pejabat, pekerja, pedagang, pengusaha, mahasiswa, nelayan, dan anak-anak muda dapat berada dalam ruang yang sama. Ketika gol tercipta, satu kata dapat menggema dari ribuan suara: gol!
Dalam beberapa detik, perbedaan sosial yang biasanya terlihat dalam kehidupan sehari-hari menjadi tidak penting.
Di situlah olahraga menunjukkan kekuatannya. Olahraga bukan hanya persoalan fisik dan kompetisi. Ia juga menyediakan ruang bagi manusia untuk merasa menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar daripada dirinya sendiri.
Di tengah kota yang semakin padat, cepat, dan individualistis, ruang semacam itu semakin penting.
Sebab, manusia membutuhkan tempat untuk bertemu, bukan hanya tempat untuk bekerja dan bertransaksi.
Karena itu, keberhasilan seorang pemimpin tidak semestinya hanya diukur dari berapa banyak proyek yang dibangun. Yang lebih penting adalah kehidupan seperti apa yang hendak diciptakan melalui pembangunan tersebut.
Apakah kota hanya menjadi tempat orang bekerja dan tidur? Ataukah kota juga menjadi tempat warganya merasa memiliki?
Apakah pembangunan hanya mengejar pertumbuhan ekonomi? Ataukah pembangunan juga menyediakan ruang bagi olahraga, kebudayaan, komunitas, anak muda, dan kehidupan sosial?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut membuat Stadion Untia menjadi lebih penting daripada sekadar bangunan.
Ia dapat menjadi simbol bahwa Makassar masih menyediakan ruang bagi warganya untuk berkumpul, bermimpi, dan membangun masa depan.
Namun, warisan tidak lahir dari seremoni.
Warisan lahir dari keberlanjutan.
Karena itu, pekerjaan sesungguhnya justru dimulai ketika stadion selesai dibangun.
Stadion Untia harus menjadi rumah yang hidup. Bukan hanya rumah bagi PSM, tetapi juga bagi pembinaan atlet muda, komunitas, UMKM, kegiatan seni dan budaya, serta ekonomi kreatif.
Pengelolaannya juga harus dilakukan secara profesional, transparan, dan berkelanjutan. Aspek lingkungan tidak boleh diabaikan.
Jangan sampai stadion dibangun megah, tetapi ekosistem di sekitarnya tidak ikut berkembang.
Jangan pula stadion hanya ramai ketika pertandingan berlangsung, lalu sepi ketika lampu pertandingan dipadamkan.
Sebab, sebuah warisan tidak dinilai dari kemegahannya ketika diresmikan. Warisan dinilai dari manfaat yang tetap dirasakan ketika generasi berganti.
Ukuran paling sederhana untuk melihat warisan seorang pemimpin adalah membayangkan keadaan kota beberapa puluh tahun setelah ia tidak lagi menjabat.
Namanya mungkin tidak lagi tercetak di baliho. Wajahnya telah digantikan oleh pemimpin berikutnya. Program-program pemerintahannya menjadi bagian dari catatan sejarah.
Namun, jika Stadion Untia masih berdiri, PSM masih bertanding, anak-anak muda masih berlatih, UMKM masih tumbuh, dan orang tua masih membawa anak-anaknya menonton pertandingan, maka manfaat pembangunan itu masih hidup.
Pada saat itu, seorang ayah mungkin berkata kepada anaknya, “Dulu, ada seorang wali kota yang berjanji membangun tempat ini.”
Lalu sang anak menjawab, “Untung dia menepatinya.”
Jika percakapan itu benar-benar terjadi beberapa puluh tahun mendatang, itulah bentuk warisan yang sesungguhnya.
Bukan patung.
Bukan nama jalan.
Bukan prasasti.
Melainkan manfaat yang tetap hidup ketika orang yang membangunnya sudah tidak lagi berkuasa.
Tentu saja, Munafri Arifuddin bukan pemimpin tanpa kekurangan. Tidak ada pemimpin yang demikian.
Setiap kebijakan tetap layak diuji. Setiap anggaran harus diawasi. Setiap pembangunan harus dikritisi agar tidak menyimpang dari tujuan awal.
Namun, mengawasi pemerintah bukan berarti menutup mata terhadap keberhasilan.
Demokrasi yang sehat membutuhkan dua keberanian sekaligus: keberanian mengkritik ketika pemerintah keliru dan keberanian mengakui ketika pemerintah berhasil.
Karena itu, ketika sebuah janji yang pernah disampaikan kepada masyarakat mulai diwujudkan, apresiasi bukanlah bentuk keberpihakan kepada seorang pemimpin.
Apresiasi adalah penghargaan terhadap prinsip bahwa kata-kata seorang pemimpin seharusnya memiliki hubungan dengan tindakannya.
Pada akhirnya, Makassar bukan milik wali kota.
Makassar bukan milik partai politik, pengusaha, atau birokrat.
Kota ini adalah milik mereka yang hidup, bekerja, bermimpi, dan menua di dalamnya.
Seorang wali kota hanya memperoleh kesempatan untuk merawat kota selama masa jabatannya.
Karena itu, kekuasaan sesungguhnya bukan kesempatan untuk memiliki kota, melainkan kesempatan untuk meninggalkan sesuatu yang baik bagi kota.
Di situlah ukuran cinta kepada kota menjadi nyata.
Orang yang mencintai Makassar tidak semestinya hanya bertanya, “Apa yang bisa saya ambil dari kota ini?”
Pertanyaan yang lebih penting adalah, “Apa yang bisa saya tinggalkan untuk kota ini?”
Stadion Untia mungkin menjadi salah satu jawaban Munafri Arifuddin atas pertanyaan tersebut.
Jawaban itu kelak tidak lagi membutuhkan pidato. Beton akan berbicara. Rumput akan berbicara. Tribun akan berbicara.
Namun, yang paling penting adalah manusia yang menggunakan dan merasakan manfaatnya.
Sejarah politik Makassar akan terus berubah. Wali kota datang dan pergi. Partai politik menang dan kalah. Koalisi terbentuk dan bubar. Janji-janji baru akan terus bermunculan.
Namun, kota memiliki ingatan yang lebih panjang daripada politik.
Kota mengingat siapa yang membangun. Kota mengingat siapa yang merawat. Kota juga mengingat siapa yang hanya pandai berjanji.
Karena itu, memenuhi janji politik bukan sekadar menyelesaikan pekerjaan pemerintahan. Ia merupakan cara seorang pemimpin meninggalkan jejak yang dapat dipertanggungjawabkan kepada sejarah.
Jika Stadion Untia kelak menjadi rumah bagi generasi baru Makassar, masyarakat mungkin tidak lagi memperdebatkan siapa yang paling banyak berbicara tentang kecintaan kepada kota.
Mereka cukup melihat stadion yang tetap hidup pada malam pertandingan. Melihat ribuan orang berdiri di tribun. Melihat anak-anak muda bermimpi menjadi pesepak bola.
Dan mendengar satu kota berteriak bersama:
Ewako!
Pada saat itu, politik telah selesai.
Yang tersisa adalah manfaat.
Di situlah kecintaan kepada sebuah kota menemukan bentuknya yang paling jujur: bukan pada apa yang dikatakan seorang pemimpin ketika berkuasa, melainkan pada apa yang masih dirasakan warganya setelah kekuasaan itu berlalu.








