Masa Depan Tamangapa Ditentukan dari Hulu

- Pewarta

Rabu, 9 September 2026 - 11:38 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Mashud Azikin

MAKASSARTIME.COM– Ada satu kekeliruan lama dalam cara kota memandang persoalan sampah: kota dianggap bersih ketika sampah telah diangkut dari rumah warga dan dibawa ke tempat pembuangan akhir. Seolah-olah persoalan selesai ketika truk sampah meninggalkan permukiman.

Padahal, sampah tidak pernah benar-benar pergi. Ia hanya berpindah tempat.

Di TPA Tamangapa, perpindahan itu kemudian menjadi gunungan sampah, air lindi, bau, gas, vektor penyakit, hingga risiko ekologis bagi masyarakat di sekitarnya. Karena itu, pembenahan Tamangapa tidak boleh berhenti pada penataan kawasan dan perbaikan fasilitas. Lebih jauh, Tamangapa harus menjadi momentum untuk mengubah paradigma pengelolaan sampah: dari buang-angkut-kubur menjadi kurangi-pilah-olah-pulihkan.

Hilir yang Harus Diperbaiki

Peralihan dari sistem open dumping menuju sanitary landfill merupakan fondasi penting dalam pembenahan TPA. Penataan timbunan, perbaikan akses, penguatan struktur, serta pengendalian operasional diperlukan untuk menekan risiko lingkungan dan keselamatan.

Begitu pula dengan pengelolaan air lindi. Kolam pengolahan yang terhubung dengan jaringan drainase khusus diperlukan agar lindi dapat dikumpulkan dan diolah sehingga tidak mencemari tanah maupun badan air di sekitar kawasan.

Namun, infrastruktur hilir memiliki keterbatasan.

TPA yang semakin baik tidak boleh menjadi alasan untuk terus mengirim sampah dalam jumlah yang sama. Jika timbulan sampah dari rumah tangga, pasar, kawasan komersial, dan permukiman tidak dikurangi, TPA hanya akan menghasilkan gunungan yang lebih tertata.

Dengan kata lain, memperbaiki TPA tanpa mengurangi sampah yang masuk hanya memindahkan persoalan ke masa depan.

Menata Peternakan, Membangun Ekonomi Sirkular

Penataan aktivitas peternakan di sekitar TPA juga menjadi bagian penting dari pembenahan Tamangapa.

Sapi tidak semestinya mencari pakan di timbunan sampah. Selain mengganggu operasional TPA, praktik tersebut berpotensi menimbulkan persoalan keamanan pangan karena hewan dapat terpapar material yang berbahaya.

Penyediaan ranch atau area penangkaran dapat menjadi salah satu solusi awal. Namun, langkah yang lebih strategis adalah membangun rantai pasok pakan dari sumber organik yang aman.

Sampah organik dari pasar, misalnya, dapat dipilah sejak sumber dan dimanfaatkan sesuai standar yang berlaku. Material yang tercemar harus ditolak. Hanya bahan yang memenuhi persyaratan yang dapat masuk dalam skema pemanfaatan.

Di sinilah konsep ekonomi sirkular memperoleh makna praktis. Sampah pasar dikurangi, sumber daya dipulihkan, peternakan memperoleh input yang aman, dan risiko terhadap konsumen dapat ditekan.

Ekonomi sirkular bukan sekadar mengubah limbah menjadi produk baru. Yang lebih penting, sistem tersebut harus memastikan bahwa risiko tidak ikut berputar di dalam rantai pemanfaatan.

Hulu Menentukan Masa Depan Tamangapa

Karena itu, pembenahan Tamangapa sesungguhnya harus dimulai jauh sebelum truk memasuki gerbang TPA.

Rumah tangga merupakan titik pertama. Pemilahan harus dimulai dari sumber dengan memisahkan sampah organik, material anorganik yang masih bernilai, dan residu.

Sampah organik yang memungkinkan dapat diolah melalui komposter, ember tumpuk, biopori, atau teknologi pengolahan lainnya. Material yang masih bernilai dapat masuk ke bank sampah maupun rantai daur ulang.

Pasar menjadi titik intervensi berikutnya. Sampah organik perlu dipilah, ditimbang, dan diolah. Plastik, kardus, logam, serta material bernilai lainnya diarahkan ke jalur pemulihan. Hanya residu yang benar-benar tidak dapat dimanfaatkan yang dikirim ke TPA.

Pada saat yang sama, fungsi tempat penampungan sementara (TPS) perlu bergeser. TPS tidak cukup hanya menjadi tempat transit sampah sebelum diangkut ke TPA. TPS harus dikembangkan menjadi simpul pemulihan material.

Sampah yang masuk perlu ditimbang, dicatat, dipilah, kemudian diarahkan ke jalur pengolahan masing-masing.

Dengan demikian, sistem persampahan memiliki alur yang lebih jelas:

Rumah → Pemilahan → TPS/Pusat Pemulihan → Daur Ulang/Pengolahan Organik → Residu → TPA.

Dalam sistem seperti ini, TPA benar-benar menjadi tahap terakhir, bukan tujuan utama.

Mengubah Ukuran Keberhasilan

Perubahan paradigma juga harus diikuti perubahan cara pemerintah mengukur keberhasilan.

Selama ini, salah satu pertanyaan utama dalam pengelolaan persampahan adalah: berapa banyak sampah yang berhasil diangkut?

Ke depan, pertanyaannya harus bergeser menjadi: berapa banyak sampah yang berhasil dicegah masuk ke TPA?

Indikator keberhasilan dapat dibuat konkret. Misalnya, melalui penurunan volume sampah yang masuk TPA, peningkatan pemilahan dari sumber, peningkatan pengolahan sampah organik, peningkatan material yang berhasil dipulihkan, serta terjaganya kualitas air dan lingkungan di sekitar TPA.

Data menjadi instrumen penting dalam sistem tersebut.

Kecamatan, pasar, dan TPS perlu mengetahui berapa volume sampah yang dihasilkan, berapa yang berhasil dipulihkan, dan berapa yang akhirnya menjadi residu.

Tanpa pengukuran yang jelas, kebijakan persampahan akan mudah berhenti sebagai slogan.

Jangan Bangga Terlalu Cepat

Tamangapa memang patut dibenahi. Sistem sanitary landfill perlu diperkuat. Pengelolaan lindi harus diperketat. Aktivitas peternakan perlu ditata.

Namun, jangan bangga terlalu cepat.

Keberhasilan pembenahan TPA tidak terutama ditentukan oleh seberapa rapi gunungan sampah terlihat. Ukuran sejatinya adalah seberapa sedikit sampah yang pada akhirnya harus dikuburkan.

Kota yang bersih bukan kota yang pandai memindahkan sampah dari pandangan. Kota yang bersih adalah kota yang mampu mengurangi timbulan sampah, memilah sejak sumber, memulihkan material, mengolah sampah organik, dan mengendalikan residu secara aman.

Pada akhirnya, Tamangapa bukan sekadar persoalan teknis persampahan. Ia menyangkut martabat kota: bagaimana tanah dan air dijaga, warga dilindungi, keamanan pangan dipastikan, serta sampah diperlakukan sebagai bagian dari tanggung jawab ekologis.

Tamangapa tidak membutuhkan sekadar wajah baru.

Ia membutuhkan cara berpikir baru.

Dari buang menjadi olah.

Dari limbah menjadi sumber daya.

Dari angkut-kubur menjadi kurangi-pilah-pulihkan.

Sebab, masa depan Tamangapa tidak hanya ditentukan oleh apa yang terjadi di dalam pagar TPA.

Ia ditentukan oleh apa yang kita lakukan terhadap sampah sebelum truk datang mengambilnya.

Berita Terkait

Appi dan Logika Personal Kapital
Cashless Society di Era Digitalisasi: Ketika Dompet Pindah ke Ponsel
Appi, Golkar, dan Menguatnya Politik Berbasis Figur
Agama dan Lingkungan, Membangun Gerakan Ekologis Lintas Iman di Makassar
Gemar Menjatuhkan Orang Lain Bukan Tanda Pribadi Kritis
Munafri Arifuddin Turun ke SPBU, Hadir di Tengah Keluhan Warga
Makassar dan Politik Sampah dari Hilir
Buku untuk Anak, Cermin bagi Orang Dewasa

Berita Terkait

Senin, 5 Oktober 2026 - 09:38 WIB

Appi dan Logika Personal Kapital

Kamis, 24 September 2026 - 13:56 WIB

Cashless Society di Era Digitalisasi: Ketika Dompet Pindah ke Ponsel

Rabu, 23 September 2026 - 09:57 WIB

Appi, Golkar, dan Menguatnya Politik Berbasis Figur

Kamis, 17 September 2026 - 12:35 WIB

Agama dan Lingkungan, Membangun Gerakan Ekologis Lintas Iman di Makassar

Selasa, 15 September 2026 - 12:50 WIB

Gemar Menjatuhkan Orang Lain Bukan Tanda Pribadi Kritis

Berita Terbaru

Info Makassar

Appi Nahkodai PSSI Sulsel, Siapkan Pembenahan Sepak Bola

Selasa, 27 Okt 2026 - 15:00 WIB

Info Makassar

Appi Tinjau Penimbunan Stadion Untia, Konstruksi Awal 2027

Senin, 26 Okt 2026 - 11:35 WIB