Indonesia Asri Dimulai dari Rumah, Bukan dari Slogan

- Pewarta

Rabu, 12 Agustus 2026 - 19:45 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Mashud Azikin

Pemerhati Persampahan Kota Makassar | Pegiat Eco-Enzyme

MAKASSARTIME.COM– Ada cara sederhana untuk membaca masa depan sebuah bangsa: lihatlah bagaimana bangsa itu memperlakukan sampahnya.

Selama ini, kita terbiasa mengukur masa depan Indonesia melalui pertumbuhan ekonomi, nilai investasi, pembangunan infrastruktur, atau berbagai indikator makro lainnya. Semua itu penting. Namun, ada indikator yang kerap luput dari perhatian, yakni bagaimana masyarakat memperlakukan sampah yang mereka hasilkan setiap hari.

Masa depan sesungguhnya dapat dibaca dari tempat sampah di depan rumah. Di sanalah terlihat sejauh mana masyarakat memahami tanggung jawab terhadap lingkungan.

Sampah bukan sekadar barang yang kehilangan nilai guna. Ia merupakan jejak konsumsi manusia. Sampah mencerminkan apa yang kita makan, apa yang kita beli, seberapa besar kita mengonsumsi, sekaligus menunjukkan apakah kita bersedia bertanggung jawab setelah barang tersebut tidak lagi digunakan.

Karena itu, memilah sampah bukan sekadar pekerjaan petugas kebersihan, melainkan bagian dari pembangunan peradaban.

Tong Sampah sebagai Cermin Moral

Kebiasaan masyarakat terhadap sampah sesungguhnya memperlihatkan cara pandang kita terhadap lingkungan.

Sebuah barang disebut produk ketika berada di toko. Setelah dibeli, ia menjadi milik kita. Ketika selesai digunakan, ia berubah menjadi sampah. Ironisnya, saat sampah keluar dari pagar rumah, banyak orang merasa tanggung jawabnya juga ikut selesai.

Padahal persoalan sampah tidak pernah benar-benar berakhir.

Sampah hanya berpindah tempat: dari rumah menuju tempat penampungan sementara, diangkut ke truk, kemudian berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA). Dampaknya dapat kembali kepada masyarakat dalam bentuk pencemaran udara, air, tanah, gangguan kesehatan, meningkatnya biaya publik, hingga memperparah perubahan iklim.

Karena itu, pertanyaan penting dalam persoalan lingkungan bukan hanya bagaimana membuang sampah, tetapi mengapa kita menghasilkan sampah dalam jumlah sebesar itu.

Pertanyaan tersebut mengajak setiap orang mengevaluasi pola konsumsi dan gaya hidupnya.

Indonesia Asri Dimulai dari Rumah

Program lingkungan sering kali identik dengan proyek besar, seperti penghijauan, rehabilitasi sungai, pembangunan taman kota, atau teknologi pengolahan sampah modern.

Semua itu memang penting. Namun, perubahan terbesar justru dimulai dari rumah tangga, terutama dari dapur.

Di sanalah setiap hari sampah organik bercampur dengan plastik, sisa makanan bercampur limbah lainnya, hingga akhirnya seluruhnya dikirim ke tempat yang sama.

Padahal, ketika sampah dicampur sejak awal, peluang pemanfaatannya ikut hilang.

Sampah organik semestinya dipandang sebagai sumber daya biologis yang dapat diolah menjadi kompos, eco-enzyme, atau bahan baku biodigester. Sampah anorganik yang masih bernilai dapat masuk ke rantai daur ulang. Sementara residu menjadi bagian terkecil yang benar-benar harus dibuang ke TPA.

Indonesia Asri bukan hanya tentang kota yang tampak bersih, melainkan tentang masyarakat yang mampu mengurangi dan mengelola sampah sejak dari sumbernya.

Pertobatan Ekologis

Krisis lingkungan membutuhkan lebih dari sekadar teknologi. Ia memerlukan perubahan cara berpikir dan perilaku.

Pertobatan ekologis berarti menghadirkan kepedulian lingkungan dalam kehidupan sehari-hari. Ia dimulai dari rumah, kemudian masuk ke sekolah, pasar, hotel, kantor, hingga menjadi bagian dari kebijakan publik.

Pertobatan ekologis juga berarti mengubah pola konsumsi. Membeli sesuai kebutuhan, menggunakan barang selama mungkin, memperbaiki sebelum mengganti, menggunakan kembali sebelum membuang, dan memilah sebelum menyerahkan sampah kepada sistem pengelolaan.

Ukuran kepedulian terhadap lingkungan bukan hanya banyaknya slogan tentang cinta bumi, melainkan seberapa kecil beban yang kita berikan kepada bumi akibat gaya hidup kita.

Ekonomi Sirkular sebagai Jalan Keluar

Selama ini, sebagian besar aktivitas ekonomi masih mengikuti pola linear: mengambil, memproduksi, mengonsumsi, lalu membuang.

Ekonomi sirkular menawarkan pendekatan berbeda. Prinsipnya adalah mengurangi, menggunakan kembali, memperbaiki, memulihkan, dan mendaur ulang.

Dalam paradigma ini, sampah bukan akhir dari sebuah produk, melainkan awal bagi siklus pemanfaatan berikutnya.

Kulit buah dapat diolah menjadi kompos atau eco-enzyme. Sisa makanan menjadi bahan biodigester. Sampah organik kembali menyuburkan tanah. Plastik yang masih bernilai menjadi bahan baku industri daur ulang.

Dengan demikian, pemilahan sampah bukan hanya aktivitas lingkungan, tetapi juga aktivitas ekonomi.

Apabila setiap rumah tangga mampu mengelola sampah organiknya sendiri, maka biaya pengangkutan dapat berkurang, volume sampah menuju TPA menurun, dan muncul nilai ekonomi baru di tingkat masyarakat.

Makassar sebagai Laboratorium Perubahan

Sebagai kota metropolitan dengan aktivitas perdagangan, jasa, permukiman, perhotelan, dan kuliner yang tinggi, Makassar menghadapi persoalan sampah yang kompleks.

Namun, kompleksitas tersebut justru menjadikan Makassar sebagai laboratorium penting bagi pengembangan sistem pengelolaan sampah nasional.

Kota ini tidak cukup hanya mempercepat pengangkutan sampah atau memperluas kapasitas TPA. Yang lebih penting adalah mengurangi timbulan sampah dari sumbernya.

Berbagai inisiatif masyarakat, seperti bank sampah, komposting rumah tangga, eco-enzyme, biodigester, teba modern, hingga urban farming, menunjukkan bahwa pengelolaan sampah dapat dimulai dari lingkungan terkecil.

Dalam konteks itu, pemerintah berperan membangun sistem yang menghubungkan berbagai gerakan masyarakat agar menjadi sebuah ekosistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan.

Melalui agenda Makassar Bebas Sampah 2029, kota ini memiliki peluang membuktikan bahwa pertumbuhan ekonomi dan kelestarian lingkungan bukanlah dua tujuan yang saling bertentangan. Keduanya dapat berjalan bersamaan melalui penerapan ekonomi sirkular.

Keadilan bagi Generasi Mendatang

Persoalan sampah sesungguhnya juga menyangkut keadilan.

Setiap produk yang kita konsumsi menghasilkan biaya sosial yang sering kali ditanggung pihak lain. Pemerintah harus menyediakan anggaran, petugas kebersihan bekerja di garis depan, masyarakat sekitar fasilitas pengelolaan sampah menerima dampaknya, sementara lingkungan menanggung pencemaran.

Lebih jauh lagi, generasi mendatang akan mewarisi konsekuensi dari pola konsumsi hari ini.

Karena itu, memilah sampah merupakan bentuk tanggung jawab antargenerasi. Kita tidak berhak menghabiskan kapasitas ekologis bumi, lalu menyerahkan seluruh akibatnya kepada anak cucu.

Masa Depan Dimulai dari Kebiasaan Kecil

Masa depan Indonesia sesungguhnya dapat dibaca dari kantong sampah di setiap rumah.

Jika sampah masih bercampur, maka persoalan lingkungan, ekonomi, dan kesehatan akan terus bercampur pula.

Sebaliknya, ketika masyarakat mulai memilah sampah, perubahan besar sedang dimulai.

Satu rumah memilah.

Satu RT mengolah.

Satu kelurahan mengurangi timbulan sampah.

Satu kota membangun ekonomi sirkular.

Dan pada akhirnya, satu bangsa berubah.

Indonesia Asri tidak cukup menjadi program pemerintah ataupun slogan kampanye lingkungan. Ia harus menjadi kontrak moral antara negara, dunia usaha, masyarakat, dan setiap rumah tangga.

Pemerintah menyediakan sistem. Dunia usaha memperbaiki rantai produksi. Komunitas menghadirkan inovasi. Masyarakat mengubah perilaku.

Pada akhirnya, masa depan Indonesia mungkin tidak ditentukan oleh sesuatu yang spektakuler.

Ia ditentukan oleh keputusan sederhana yang dilakukan setiap hari: apakah kita memilih mencampur atau memilah sampah.

Pilihan itu tampak kecil.

Namun ketika dilakukan oleh jutaan orang secara konsisten, ia berubah menjadi budaya.

Ketika diwariskan lintas generasi, ia menjadi peradaban.

Karena itu, jangan pernah meremehkan seseorang yang memisahkan kulit pisang dari botol plastik.

Barangkali, ia sedang mengajarkan kepada anaknya bahwa setiap konsumsi memiliki konsekuensi, kepada tetangganya bahwa lingkungan adalah tanggung jawab bersama, dan kepada bumi bahwa manusia mulai belajar bertanggung jawab.

Sampah yang kita buang hari ini sesungguhnya adalah surat yang kita kirim kepada masa depan.

Pertanyaannya sederhana: apakah surat itu akan dibaca oleh anak cucu kita sebagai surat cinta, atau justru sebagai surat utang?

Berita Terkait

Appi dan Logika Personal Kapital
Cashless Society di Era Digitalisasi: Ketika Dompet Pindah ke Ponsel
Appi, Golkar, dan Menguatnya Politik Berbasis Figur
Agama dan Lingkungan, Membangun Gerakan Ekologis Lintas Iman di Makassar
Gemar Menjatuhkan Orang Lain Bukan Tanda Pribadi Kritis
Munafri Arifuddin Turun ke SPBU, Hadir di Tengah Keluhan Warga
Makassar dan Politik Sampah dari Hilir
Masa Depan Tamangapa Ditentukan dari Hulu

Berita Terkait

Senin, 5 Oktober 2026 - 09:38 WIB

Appi dan Logika Personal Kapital

Kamis, 24 September 2026 - 13:56 WIB

Cashless Society di Era Digitalisasi: Ketika Dompet Pindah ke Ponsel

Rabu, 23 September 2026 - 09:57 WIB

Appi, Golkar, dan Menguatnya Politik Berbasis Figur

Kamis, 17 September 2026 - 12:35 WIB

Agama dan Lingkungan, Membangun Gerakan Ekologis Lintas Iman di Makassar

Selasa, 15 September 2026 - 12:50 WIB

Gemar Menjatuhkan Orang Lain Bukan Tanda Pribadi Kritis

Berita Terbaru

Info Makassar

Appi Nahkodai PSSI Sulsel, Siapkan Pembenahan Sepak Bola

Selasa, 27 Okt 2026 - 15:00 WIB

Info Makassar

Appi Tinjau Penimbunan Stadion Untia, Konstruksi Awal 2027

Senin, 26 Okt 2026 - 11:35 WIB