Pemkot Makassar Salurkan 2.000 Liter Pupuk dan 2.365 Kg Benih Padi

- Pewarta

Senin, 24 Agustus 2026 - 13:49 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MAKASSARTIME.COM — Pemerintah Kota Makassar menyalurkan bantuan sarana produksi pertanian kepada kelompok tani sebagai bagian dari upaya menjaga produktivitas di tengah keterbatasan lahan dan ancaman musim kering.

Bantuan tersebut diserahkan saat Wali Kota Makassar Munafri Arifuddin menghadiri Musyawarah Tani “Abbulo Sibatang” yang digelar Kelompok Tani Bontoa di Jalan Andi Patturungi, Kelurahan Barombong, Kecamatan Tamalate, Kamis (20/8/2026).

Bantuan yang disalurkan terdiri atas 2.000 liter pupuk organik cair, 2.365 kilogram benih padi sebar, lima unit kultivator, 20 unit penyemprot elektrik, serta dua unit pompa air pinggang berukuran 3 inci.

Munafri mengatakan musyawarah tani menjadi ruang komunikasi antara pemerintah, kelompok tani, dan pemangku kepentingan untuk membahas persoalan pertanian sekaligus mencari solusi secara bersama.

“Hari ini, kita bisa melaksanakan kegiatan yang melibatkan kelompok tani yang ada di seluruh Kota Makassar,” kata Munafri.

Menurut dia, dukungan sarana produksi perlu diikuti dengan penerapan teknologi untuk meningkatkan indeks pertanaman dan luas tambah tanam. Langkah tersebut dinilai semakin penting di tengah perubahan iklim dan musim kering berkepanjangan.

Munafri mengaku telah melihat langsung kondisi masyarakat di sejumlah wilayah. Menurutnya, keterbatasan air tidak hanya berdampak pada sektor pertanian, tetapi juga menyangkut pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.

“Karena itu, Pemerintah Kota memastikan berbagai kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi, termasuk memberikan dukungan agar aktivitas pertanian tetap berjalan di tengah kondisi cuaca yang tidak menentu,” ujarnya.

Di sisi lain, Munafri menyebut Makassar memiliki keterbatasan lahan pertanian. Kondisi tersebut membuat pemerintah perlu mengembangkan pola pertanian yang lebih adaptif dengan memanfaatkan teknologi.

“Dengan lahan yang tidak tersedia dalam jumlah besar, kita berharap pembangunan ke depan menggunakan teknologi-teknologi pertanian,” jelasnya.

Salah satu langkah yang tengah dirancang ialah pengembangan sejumlah greenhouse berbasis teknologi Internet of Things (IoT). Teknologi tersebut diharapkan membantu petani menjaga produktivitas tanaman agar tidak sepenuhnya bergantung pada kondisi cuaca.

“Dengan greenhouse, kita berharap ke depan tidak lagi terlalu tergantung dengan cuaca, tetapi bagaimana produktivitas pertanian ini bisa memenuhi kebutuhan masyarakat,” katanya.

Meski mendorong pertanian berbasis teknologi, Munafri memastikan pengembangan tersebut tidak berarti mengesampingkan lahan persawahan. Produktivitas sawah tetap akan ditingkatkan melalui intensifikasi tanam dan dukungan sarana pertanian.

“Kalau sawah, tetap kita akan jalan juga dengan meningkatkan intensitas panennya dan tentu akan disupport dengan teknologi yang ada,” tuturnya.

Munafri mencontohkan lahan sekitar 20 hektare yang saat ini memasuki musim tanam kedua. Lahan tersebut telah menunjukkan produktivitas dan berpotensi dikembangkan hingga tiga kali musim tanam dalam setahun.

“Ini kan musim tanam kedua, mereka sudah bisa panen. Luasannya kurang lebih 20 hektare. Kemudian bisa tiga kali tanam. Ini sangat luar biasa,” ujarnya.

Setiap hektare lahan tersebut, kata Munafri, berpotensi menghasilkan sekitar 6 hingga 7 ton padi. Potensi itu dinilai perlu dioptimalkan dengan teknologi dan tata kelola pertanian yang tepat.

Menurut Munafri, penguatan sektor pertanian tidak hanya berkaitan dengan kesejahteraan petani, tetapi juga menjadi bagian dari strategi menjaga ketahanan pangan dan mengendalikan inflasi.

Sebagai kota metropolitan, Makassar masih bergantung pada pasokan pangan dari sejumlah daerah sentra produksi. Namun, ketergantungan tersebut perlu diimbangi dengan peningkatan kemampuan daerah dalam memenuhi sebagian kebutuhan pangannya.

“Kalau ketahanan pangan tidak bisa terjaga, inflasi kita pasti akan sangat tinggi. Maka dari itu, kita tidak boleh tergantung sepenuhnya dari daerah-daerah penghasil,” tegasnya.

Untuk memperluas produksi pangan di tengah keterbatasan lahan, Pemkot Makassar juga mendorong pengembangan urban farming. Lahan-lahan sempit di lingkungan permukiman dinilai dapat dimanfaatkan secara produktif dengan dukungan teknologi dan keterlibatan masyarakat.

Munafri juga menginginkan pengembangan pertanian perkotaan berjalan seiring dengan sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi. Sampah organik yang dikelola dengan baik, kata dia, dapat dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan pertanian, termasuk sebagai bahan pupuk.

“Harus ada sinkronisasi sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi dengan pertanian lahan sempit atau urban farming. Ini harus kita tumbuhkan setiap hari di Kota Makassar,” ujarnya.

Dia menilai Dinas Pertanian dan Perikanan Kota Makassar memiliki peran penting dalam mengawal pengembangan tersebut bersama kelompok tani dan masyarakat. Pemerintah juga ingin memastikan hasil pertanian memiliki nilai ekonomi sehingga berdampak langsung pada kesejahteraan petani.

“Pemerintah Kota Makassar akan terus hadir di tengah-tengah masyarakat yang membutuhkan,” kata Munafri.

Ia menambahkan, penerapan teknologi pertanian harus dibarengi pendampingan. Menurutnya, bantuan peralatan tidak akan optimal jika petani tidak mendapatkan pemahaman dan pendampingan dalam penggunaannya.

“Inilah yang akan menjadi pola komunikasi antara petani dengan pemerintah atau stakeholder yang berhubungan langsung dengan mereka,” terang Munafri.

Terkait kebutuhan energi dan biaya operasional, termasuk bahan bakar untuk mendukung aktivitas pengairan, Munafri menegaskan pemerintah akan mencari solusi yang dapat memberikan kemudahan bagi petani.

Menurutnya, berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat membutuhkan kehadiran pemerintah agar dapat dicarikan solusi yang tepat dan berkelanjutan.

Munafri memastikan Pemkot Makassar melalui Dinas Pertanian dan Perikanan akan terus melakukan kajian dan menyusun program untuk menjaga keberlangsungan sektor pertanian.

Ia berharap bantuan sarana produksi, peningkatan indeks pertanaman, pemanfaatan teknologi, pengembangan greenhouse, serta urban farming dapat menjadi bagian dari strategi besar Makassar dalam menjaga ketahanan pangan.

“Harapan kita, bagaimana kehidupan masyarakat ini tetap bisa berjalan dengan baik, tetap bisa berjalan seimbang di tengah berbagai macam persoalan yang ada,” tutup Munafri. (*)

Berita Terkait

Kurangi Mobilitas, Pemkot Makassar Terapkan Pembelajaran Daring PAUD Hingga SMP Mulai Besok
Cek Antrean BBM, Appi Minta Seluruh Fasilitas SPBU Difungsikan
Pertamina Klaim Stok BBM Aman, Warga Makassar Masih Antre Berjam-jam
Antrean BBM Tak Kunjung Terurai, Appi Minta Atur Jadwal Antrean Bus dan Truk di SPBU
Pemerataan Pendidikan Sampai Wilayah Kepulauan Antar Makassar Raih Penghargaan Nasional
Kekeringan Meluas, BPBD Makassar Distribusikan Air Bersih ke 161 Titik
Appi Bekali Ribuan Maba Bosowa Jadi Bagian dari Pembangunan Makassar
Pemkot Makassar Perluas Distribusi Air Bersih hingga 157 Titik

Berita Terkait

Jumat, 11 September 2026 - 20:34 WIB

Kurangi Mobilitas, Pemkot Makassar Terapkan Pembelajaran Daring PAUD Hingga SMP Mulai Besok

Jumat, 11 September 2026 - 15:41 WIB

Cek Antrean BBM, Appi Minta Seluruh Fasilitas SPBU Difungsikan

Jumat, 11 September 2026 - 13:35 WIB

Antrean BBM Tak Kunjung Terurai, Appi Minta Atur Jadwal Antrean Bus dan Truk di SPBU

Kamis, 10 September 2026 - 13:45 WIB

Pemerataan Pendidikan Sampai Wilayah Kepulauan Antar Makassar Raih Penghargaan Nasional

Kamis, 10 September 2026 - 11:39 WIB

Kekeringan Meluas, BPBD Makassar Distribusikan Air Bersih ke 161 Titik

Berita Terbaru

Uncategorized

Kisruh BBM dan LPG di Sulsel, Warakaf Desak Presiden Copot Bahlil

Sabtu, 12 Sep 2026 - 12:48 WIB

Info Makassar

Cek Antrean BBM, Appi Minta Seluruh Fasilitas SPBU Difungsikan

Jumat, 11 Sep 2026 - 15:41 WIB