Pemilahan Sampah dari Rumah Berhasil Diterapkan di Rappokalling, Mulai Sejak April

- Pewarta

Senin, 3 Agustus 2026 - 21:34 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MAKASSARTIME.COM— Ketua RT 002/RW 001 Kelurahan Rappokalling, Kecamatan Tallo, Sri Rahmi Mahmud, SH., MH., membagikan pengalaman menerapkan pemilahan sampah dari sumber di lingkungan yang dipimpinnya. Program yang telah berjalan sejak 10 April 2026 itu dinilai berhasil mengurangi volume sampah yang dibuang ke tempat pemrosesan akhir (TPA) karena sebagian besar sampah diolah langsung di tingkat lingkungan.

Sri Rahmi mengatakan, gerakan tersebut dimulai sekitar empat bulan sebelum Pemerintah Kota Makassar memberlakukan kebijakan pemilahan sampah secara menyeluruh pada 1 Agustus 2026. Menurutnya, ketika kebijakan mulai diterapkan, warganya sudah terbiasa memilah sampah dari rumah.

“Kami RT 02 RW 01 Kelurahan Rappokalling Kecamatan Tallo sejak tanggal 10 April 2026, Alhamdulillah sudah memulai memilah sampah dan mengolah sampah organik,” ujarnya, Senin (3/8/2026).

Ia mengajak seluruh ketua RT/RW serta masyarakat mendukung kebijakan Pemerintah Kota Makassar melalui gerakan memilah sampah dari rumah. Menurutnya, pemilahan sejak dari sumber memudahkan proses pengolahan sekaligus memberikan manfaat bagi lingkungan.

“Karena dengan kita memilah, kita bisa lebih mudah mengolah sampah. Alhamdulillah saat kebijakan mulai berlaku pada 1 Agustus 2026 kami sudah terbiasa karena sudah empat bulan menjalankannya,” katanya.

Di lingkungannya, sampah organik diolah melalui berbagai metode di Sekolah Mangkasara, antara lain menggunakan ember komposter, lubang biopori, budidaya maggot, hingga biopori jumbo.

Selain itu, setiap lorong dilengkapi ember berukuran besar khusus untuk menampung sampah organik. Ember tersebut diberi lubang di bagian bawah agar air lindi dapat langsung meresap ke dalam tanah, sementara material yang tersisa diproses menjadi kompos padat.

“Jadi, sampah organik yang tidak kami olah di Sekolah Mangkasara, kami tampung di ember jumbo yang ada di setiap lorong,” tuturnya.

“Air lindinya langsung keluar ke tanah sehingga yang tersisa hanya bahan untuk menjadi kompos padat,” tambahnya.

Sementara itu, sampah anorganik seperti gelas plastik, botol plastik, dan kardus dikumpulkan melalui keranjang yang tersedia di setiap lorong. Warga juga didorong menyedekahkan sampah bernilai ekonomi tersebut kepada para pemulung di lingkungan sekitar.

Setiap Rabu sore, seusai pengajian rutin, warga membawa gelas plastik yang telah dibersihkan untuk ditukarkan dengan kebutuhan pokok melalui Bank Sampah Unit Sekolah Mangkasara.

“Setelah mengaji, ibu-ibu mengumpulkan gelas plastik yang sudah bersih, kemudian ditukar dengan kebutuhan pokok seperti minyak goreng, beras, dan gula melalui bank sampah unit,” ungkapnya.

Menurut Sri Rahmi, pola tersebut membuat hanya sampah residu yang diangkut petugas kebersihan menuju tempat pemrosesan akhir.

Untuk meningkatkan partisipasi masyarakat, pihaknya juga memberikan insentif berupa kebutuhan pokok kepada warga yang aktif mengikuti kegiatan bank sampah.

“Mungkin karena pendekatannya. Kami memberikan hadiah berupa sembako seperti minyak goreng, beras, dan gula kepada warga yang aktif,” jelasnya.

Sri Rahmi mengungkapkan, perubahan perilaku masyarakat tidak terjadi secara instan. Ia memulai gerakan tersebut bersama anak-anak binaannya di Sekolah Mangkasara dengan membersihkan lingkungan, termasuk drainase dan lokasi yang selama ini menjadi tempat pembuangan sampah.

“Saya tidak langsung mengajak warga, yang pertama kami benahi adalah drainase yang sangat kotor dan lokasi pembuangan sampah yang meresahkan masyarakat,” ujarnya.

Ia berharap masyarakat tidak hanya membiasakan diri memilah sampah, tetapi juga belajar mengolahnya agar jumlah sampah yang dibuang terus berkurang.

“Setelah kita belajar memilah sampah, mari kita sama-sama belajar mengolah sampah. Kami bisa, Insya Allah kamu juga pasti bisa,” katanya.

“Semua berawal dari kemauan. Di mana ada kemauan, di situ ada jalan. Di mana ada ketidakmauan, di situ banyak alasan,” pungkasnya.

Berita Terkait

Munafri Buka Ruang Aspirasi Pemuda untuk Pembangunan Makassar
Pemkot Makassar Rayakan HUT ke-419 Lewat Aksi Sosial: Bedah Rumah hingga Donor Darah
Hingga Akhir Oktober, Kebakaran di Makassar Capai 402 Kasus
Wali Kota Munafri Bawa Program Makassar Berjasa Raih Penghargaan Inovasi Membangun Negeri 2026
Appi Nahkodai PSSI Sulsel, Siapkan Pembenahan Sepak Bola
Lepas Kontingen ke Porprov XVIII, Appi Siapkan Bonus Bagi Atlet Berprestasi
Antisipasi Banjir, Pemkot Makassar Jajaki Teknologi Penyedot dan Penyemprot Air dari Jepang
Appi Tinjau Penimbunan Stadion Untia, Konstruksi Awal 2027

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 19:15 WIB

Munafri Buka Ruang Aspirasi Pemuda untuk Pembangunan Makassar

Rabu, 28 Oktober 2026 - 13:20 WIB

Pemkot Makassar Rayakan HUT ke-419 Lewat Aksi Sosial: Bedah Rumah hingga Donor Darah

Rabu, 28 Oktober 2026 - 13:11 WIB

Hingga Akhir Oktober, Kebakaran di Makassar Capai 402 Kasus

Rabu, 28 Oktober 2026 - 06:00 WIB

Wali Kota Munafri Bawa Program Makassar Berjasa Raih Penghargaan Inovasi Membangun Negeri 2026

Selasa, 27 Oktober 2026 - 15:00 WIB

Appi Nahkodai PSSI Sulsel, Siapkan Pembenahan Sepak Bola

Berita Terbaru

Info Makassar

Munafri Buka Ruang Aspirasi Pemuda untuk Pembangunan Makassar

Rabu, 28 Okt 2026 - 19:15 WIB

Info Makassar

Hingga Akhir Oktober, Kebakaran di Makassar Capai 402 Kasus

Rabu, 28 Okt 2026 - 13:11 WIB

Info Makassar

Appi Nahkodai PSSI Sulsel, Siapkan Pembenahan Sepak Bola

Selasa, 27 Okt 2026 - 15:00 WIB