Paotere dan Tantangan Mengubah Limbah Ikan Menjadi Berkah

- Pewarta

Minggu, 6 September 2026 - 11:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Mashud Azikin

Anggota Dewan Lingkungan Kota Makassar

MAKASSARTIME.COM — Setiap pagi, Paotere menyaksikan pertemuan antara laut dan kota. Perahu-perahu nelayan datang membawa hasil tangkapan. Ikan diturunkan, pedagang membuka lapak, buruh mengangkut keranjang, dan pembeli mulai berdatangan.

Dari tempat ini, laut memberi makan kota.

Namun, ketika aktivitas perdagangan berlangsung, sebagian hasil laut yang tidak dikonsumsi berubah menjadi limbah. Jeroan, kepala, insang, sisik, tulang, dan darah ikan bercampur dengan air cucian lalu masuk ke saluran pembuangan. Sebagian lainnya menumpuk di sekitar area pasar.

Di sinilah ironi Paotere terlihat jelas. Laut memberikan sumber penghidupan, tetapi sisa dari pemberian itu justru berpotensi kembali ke lingkungan sebagai pencemar.

Persoalan ini membuat Paotere tidak sekadar menjadi pasar ikan. Paotere adalah cermin bagaimana sebuah kota memperlakukan sumber daya alam yang menopang kehidupannya.

Laut Bukan Gudang Pangan Tanpa Batas

Peradaban modern memiliki kebiasaan mengambil sumber daya alam seolah-olah persediaannya tidak pernah habis.

Kita mengambil ikan dari laut, air dari sungai, mineral dari bumi, dan kayu dari hutan. Setelah digunakan, sisa dari berbagai aktivitas itu sering kali diperlakukan sebagai sesuatu yang harus segera disingkirkan.

Cara berpikir tersebut melahirkan ekonomi linear: ambil, gunakan, lalu buang.

Padahal, alam bekerja melalui siklus.

Daun yang jatuh menjadi bahan organik. Ia terurai menjadi unsur hara dan kembali menyuburkan tanah. Bangkai menjadi sumber makanan bagi organisme lain. Air menguap, membentuk awan, turun sebagai hujan, lalu kembali menghidupi bumi.

Alam tidak mengenal konsep sampah sebagaimana manusia mengenalnya.

Persoalannya muncul ketika manusia menciptakan sistem produksi dan konsumsi yang menghasilkan limbah dalam jumlah besar, tetapi tidak menyiapkan jalan bagi limbah itu untuk kembali ke dalam siklus kehidupan.

Paotere merupakan salah satu ruang yang memperlihatkan persoalan tersebut secara nyata.

Paotere dan Ingatan Maritim Makassar

Paotere juga merupakan bagian penting dari ingatan maritim Makassar.

Kota ini tumbuh melalui hubungan yang panjang dengan laut. Laut bukan sekadar batas geografis, melainkan jalur perdagangan, sumber pangan, ruang perjumpaan budaya, sekaligus sumber penghidupan masyarakat pesisir.

Karena itu, hubungan dengan laut seharusnya tidak berhenti pada aktivitas mengambil hasilnya.

Dalam kebudayaan Bugis-Makassar, dikenal nilai siri’ na pacce yang menempatkan martabat, solidaritas, dan kepedulian terhadap sesama sebagai bagian penting kehidupan sosial.

Di tengah krisis ekologis, nilai kepedulian itu semestinya dapat diperluas menjadi kepedulian terhadap lingkungan.

Kita perlu memiliki kepekaan terhadap laut yang tercemar, sungai yang dipenuhi sampah, tanah yang kehilangan kesuburan, dan pesisir yang harus menanggung limbah dari aktivitas manusia.

Sebab, kerusakan lingkungan pada akhirnya kembali kepada manusia.

Ketika air tercemar, masyarakat yang bergantung pada air akan menerima dampaknya. Ketika pesisir tercemar, masyarakat pesisir pula yang pertama kali merasakan akibatnya.

Limbah Ikan Bukan Sekadar Sampah

Ada hal penting yang perlu diubah dalam cara kita melihat limbah ikan.

Jeroan, kepala, tulang, sisik, dan bagian lain dari ikan masih mengandung bahan organik dan sejumlah unsur yang berpotensi dimanfaatkan kembali melalui pengolahan yang tepat.

Jeroan dapat diolah menjadi bahan pupuk organik melalui proses yang terkendali. Kepala dan tulang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku produk tertentu, termasuk tepung ikan, setelah melalui proses pengolahan yang memenuhi persyaratan keamanan. Sisa organik juga dapat diolah menjadi kompos.

Dengan demikian, persoalan utamanya bukan semata-mata bagaimana membuang limbah ikan.

Pertanyaan yang lebih penting adalah bagaimana mengembalikan limbah tersebut ke dalam siklus pemanfaatan.

Di sinilah gagasan ekonomi sirkular menjadi relevan.

Ekonomi sirkular tidak melihat suatu benda berhenti memiliki nilai setelah digunakan. Sebaliknya, material diupayakan tetap berada dalam siklus selama mungkin melalui pengurangan limbah, penggunaan kembali, pemanfaatan kembali, dan pengolahan.

Dengan perspektif itu, limbah ikan tidak lagi semata-mata dipandang sebagai beban lingkungan. Ia dapat menjadi sumber daya yang memiliki nilai ekonomi.

Membangun Rumah Olah Limbah

Perubahan tidak harus dimulai dari proyek yang besar.

Paotere dapat memulainya melalui sebuah sistem sederhana berupa Rumah Olah Limbah.

Konsepnya dapat dimulai dari sumber.

Pedagang menyediakan wadah tertutup untuk memisahkan limbah ikan dari plastik dan sampah anorganik lainnya. Jeroan dipisahkan. Kepala dan tulang dikumpulkan. Sisik juga dipilah.

Limbah tersebut kemudian diangkut secara teratur menuju fasilitas pengolahan.

Sebagian dapat diolah menjadi pupuk organik. Sebagian menjadi kompos. Sebagian lainnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pakan atau produk turunan lain sesuai hasil penelitian dan standar keamanan yang berlaku.

Di sinilah kolaborasi menjadi penting.

Perguruan tinggi dapat melakukan penelitian dan memastikan metode pengolahan aman serta layak diterapkan. UMKM dapat mengembangkan produk dan pasar. Komunitas dapat membantu edukasi dan pengorganisasian. Pemerintah menyediakan regulasi, infrastruktur, pendampingan, serta memastikan sistem berjalan.

Pedagang juga harus ditempatkan sebagai bagian dari sistem, bukan sekadar sebagai pihak yang menerima instruksi.

Jika seluruh unsur tersebut bekerja bersama, Paotere bukan hanya menjadi lebih bersih. Kawasan ini dapat membangun ekosistem ekonomi yang tumbuh dari pengelolaan limbahnya sendiri.

Kebersihan tidak lagi semata-mata dipandang sebagai biaya.

Kebersihan dapat menjadi nilai ekonomi.

Dari Sampah Menuju Keadilan Ekologis

Pembicaraan mengenai lingkungan sering kali berhenti pada angka: tonase sampah, volume limbah, tingkat pencemaran, atau kualitas air.

Semua indikator itu penting.

Namun, di balik setiap angka terdapat manusia.

Di balik limbah ikan terdapat nelayan yang melaut, pedagang yang berjualan, buruh yang mengangkut, keluarga yang menggantungkan penghasilan dari perdagangan ikan, serta masyarakat sekitar yang menerima dampak dari limbah tersebut.

Karena itu, pengelolaan limbah juga merupakan persoalan keadilan ekologis.

Siapa yang menikmati manfaat dari sumber daya alam?

Siapa yang menanggung beban pencemarannya?

Siapa yang memperoleh nilai ekonomi dari limbah?

Dan siapa yang harus hidup berdampingan dengan dampaknya?

Pertanyaan tersebut perlu dijawab ketika kita membicarakan masa depan Paotere.

Sebab, lingkungan yang bersih bukan hanya persoalan estetika. Ia berkaitan dengan kualitas hidup dan hak masyarakat untuk tinggal di lingkungan yang layak.

Kota yang Belajar Menghormati Laut

Mungkin sudah waktunya Makassar mengubah cara memperlakukan laut.

Bukan melalui seremoni atau slogan, melainkan melalui perubahan perilaku dan sistem.

Memilah sampah dari sumber. Mengurangi penggunaan bahan yang sulit terurai. Mengolah limbah organik. Menjaga saluran air. Mengembangkan pemanfaatan kembali material. Dan membangun sistem ekonomi yang tidak selalu berakhir di tempat pembuangan akhir.

Paotere dapat menjadi salah satu titik awal.

Persoalan limbah di Paotere juga dapat menjadi pintu masuk untuk membangun kesadaran bahwa pesisir, laut, dan kota merupakan satu kesatuan ekosistem.

Gagasan tentang bumi sebagai rumah bersama, seperti yang ditekankan dalam Laudato Si’, mengingatkan bahwa manusia tidak hidup sendirian. Air, udara, tanah, laut, dan seluruh ekosistem saling terhubung.

Pencemaran tidak mengenal batas agama, kelas sosial, maupun batas administratif.

Apa yang dibuang ke lingkungan pada akhirnya dapat kembali kepada manusia melalui air, udara, pangan, dan berbagai rantai kehidupan lainnya.

Karena itu, menjaga Paotere bukan hanya menjaga pasar ikan.

Menjaga Paotere berarti menjaga salah satu ruang tempat hubungan antara laut dan kota berlangsung setiap hari.

Paotere dan Masa Depan yang Mungkin

Bayangkan suatu pagi di Paotere beberapa tahun mendatang.

Perahu tetap datang.

Ikan tetap diturunkan.

Pedagang tetap menawarkan dagangan. Buruh tetap mengangkut keranjang. Pasar tetap riuh seperti biasanya.

Namun, ada sesuatu yang berubah.

Tidak ada lagi jeroan yang mengalir ke saluran air. Tidak ada tumpukan limbah ikan yang dibiarkan membusuk di sudut pasar.

Di sebuah bangunan sederhana, limbah ikan ditimbang, dipilah, dan diproses.

Sebagian menjadi pupuk. Sebagian menjadi kompos. Sebagian menjadi bahan baku pakan atau produk turunan lainnya.

Anak-anak sekolah datang berkunjung dan melihat sebuah siklus kehidupan.

Ikan berasal dari laut. Ikan menjadi pangan. Sisa pengolahannya diproses. Hasil pengolahan kembali menjadi sumber daya bagi tanah dan kegiatan ekonomi lainnya.

Mereka belajar bahwa sesuatu yang disebut sampah belum tentu kehilangan nilai.

Yang dibutuhkan adalah sistem untuk mengembalikannya ke dalam siklus.

Pada saat itu, Paotere tidak hanya dikenal sebagai tempat perdagangan ikan.

Paotere dapat menjadi contoh bagaimana sebuah kota belajar menghormati laut yang selama ini memberi kehidupan.

Sebab, persoalan terbesar kita bukan hanya bagaimana mengolah limbah ikan.

Persoalan yang lebih mendasar adalah bagaimana mengubah cara manusia memandang alam.

Selama laut hanya dianggap sebagai gudang ikan, manusia akan terus mengambil.

Selama tanah hanya dianggap sebagai tempat menanam, manusia akan terus menguras.

Selama sampah hanya dianggap sebagai sesuatu yang harus dibuang, kita akan terus memindahkan masalah dari satu tempat ke tempat lain.

Namun, ketika laut dipandang sebagai rumah, tanah sebagai sumber kehidupan, dan limbah sebagai bagian dari siklus, cara kita membangun kota akan berubah.

Paotere memberi kesempatan untuk memulai perubahan itu.

Laut datang setiap hari membawa rezeki.

Kota menerima pemberian itu.

Maka, sudah semestinya kota belajar mengembalikan sesuatu kepada laut.

Bukan limbah.

Melainkan penghormatan.

Pada akhirnya, pertanyaan yang perlu kita tinggalkan untuk generasi berikutnya bukan hanya berapa banyak ikan yang berhasil kita tangkap.

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

setelah semua yang diberikan laut kepada kita, apa yang telah kita kembalikan kepadanya?

Berita Terkait

Munafri Buka Ruang Aspirasi Pemuda untuk Pembangunan Makassar
Pemkot Makassar Rayakan HUT ke-419 Lewat Aksi Sosial: Bedah Rumah hingga Donor Darah
Hingga Akhir Oktober, Kebakaran di Makassar Capai 402 Kasus
Wali Kota Munafri Bawa Program Makassar Berjasa Raih Penghargaan Inovasi Membangun Negeri 2026
Appi Nahkodai PSSI Sulsel, Siapkan Pembenahan Sepak Bola
Lepas Kontingen ke Porprov XVIII, Appi Siapkan Bonus Bagi Atlet Berprestasi
Antisipasi Banjir, Pemkot Makassar Jajaki Teknologi Penyedot dan Penyemprot Air dari Jepang
Appi Tinjau Penimbunan Stadion Untia, Konstruksi Awal 2027

Berita Terkait

Rabu, 28 Oktober 2026 - 19:15 WIB

Munafri Buka Ruang Aspirasi Pemuda untuk Pembangunan Makassar

Rabu, 28 Oktober 2026 - 13:20 WIB

Pemkot Makassar Rayakan HUT ke-419 Lewat Aksi Sosial: Bedah Rumah hingga Donor Darah

Rabu, 28 Oktober 2026 - 13:11 WIB

Hingga Akhir Oktober, Kebakaran di Makassar Capai 402 Kasus

Rabu, 28 Oktober 2026 - 06:00 WIB

Wali Kota Munafri Bawa Program Makassar Berjasa Raih Penghargaan Inovasi Membangun Negeri 2026

Selasa, 27 Oktober 2026 - 15:00 WIB

Appi Nahkodai PSSI Sulsel, Siapkan Pembenahan Sepak Bola

Berita Terbaru

Info Makassar

Munafri Buka Ruang Aspirasi Pemuda untuk Pembangunan Makassar

Rabu, 28 Okt 2026 - 19:15 WIB

Info Makassar

Hingga Akhir Oktober, Kebakaran di Makassar Capai 402 Kasus

Rabu, 28 Okt 2026 - 13:11 WIB

Info Makassar

Appi Nahkodai PSSI Sulsel, Siapkan Pembenahan Sepak Bola

Selasa, 27 Okt 2026 - 15:00 WIB