MAKASSARTIME.COM — Pemerintah Kota Makassar melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bergerak cepat menangani warga yang terdampak kebakaran yang terjadi di Kecamatan Tamalate, Jalan Sultan Alauddin 3 Kelurahan Manggasa Rabu 17 Juni 2026 kemarin dengan menyalurkan bantuan logistik, bahan pangan, hingga material bangunan untuk proses pemulihan.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Makassar, Fadli Tahar, mengatakan arahan Wali Kota Makassar menekankan pentingnya kehadiran pemerintah secara cepat di tengah masyarakat yang sedang menghadapi musibah. Dengan melakukan asesmen secepat mungkin dilapangan terhadap para korban yang terdampak untuk segera dilakukan penyaluran bantuan
“Pesan Pak Wali sangat jelas, masyarakat yang terdampak kebakaran tidak membutuhkan banyak jawaban atas persoalan yang mereka hadapi. Yang mereka butuhkan adalah respons cepat dari pemerintah,” kata Fadli. Kamis 18/6/2026.
Menurutnya, penanganan korban kebakaran telah diatur dalam petunjuk teknis yang melibatkan berbagai organisasi perangkat daerah (OPD). Saat kebakaran terjadi, Dinas Pemadam Kebakaran bertugas melakukan pemadaman, kemudian BPBD melakukan asesmen, sementara Dinas Sosial menyalurkan bantuan kebutuhan dasar.
Fadli menjelaskan, setelah api berhasil dipadamkan, BPBD langsung melakukan asesmen untuk mendata jumlah rumah terdampak, kerugian yang dialami warga, serta kebutuhan yang diperlukan. Data tersebut menjadi dasar penyaluran bantuan.
“Setelah asesmen dilakukan, bantuan akan segera disalurkan. Dari BPBD berupa logistik seperti tenda, pakaian, selimut dan kebutuhan darurat lainnya. Sementara Dinas Sosial menyalurkan bantuan bahan makanan untuk memenuhi kebutuhan korban,” ujarnya.
Selain bantuan logistik dan pangan, BPBD juga menyalurkan bantuan material bangunan sehari setelah kejadian kebakaran. Bantuan tersebut diberikan secara proporsional sesuai jumlah rumah yang terdampak.
“Jika ada 11 rumah yang terdampak, maka seluruh rumah tersebut akan mendapatkan bantuan material seperti paku, seng, spandek dan kebutuhan bangunan lainnya agar warga bisa segera membangun kembali rumah mereka,” jelas Fadli.
Ia menambahkan, proses pemulihan pascakebakaran dilakukan secara gotong royong dengan melibatkan berbagai pihak, termasuk pemerintah setempat, relawan, organisasi kemanusiaan, dan masyarakat.
Baca Juga:
Memilah di Dapur, Mencampur di Truk
Siswa Tak Lolos Sekolah Negeri? Pemkot Makassar Siapkan 67 Sekolah Swasta Gratis
Tiga Partai Non-Parlemen Siap Edukasi Masyarakat Soal Penataan PKL
“BPBD tidak bekerja sendiri. Kami dibantu oleh Damkar, pemerintah kecamatan, kelurahan, relawan, PMI, dan berbagai elemen masyarakat. Dengan kolaborasi seperti ini, masyarakat akan merasa tidak ditinggalkan oleh pemerintah,” katanya.
Fadli juga mengapresiasi tingginya kepedulian sosial masyarakat Kota Makassar yang selalu hadir membantu korban saat terjadi bencana.
Menurutnya, perhatian pemerintah tidak hanya berfokus pada bantuan fisik, tetapi juga pada pemulihan psikologis dan semangat warga agar dapat segera bangkit dari musibah yang dialami.
“Pak Wali berpesan agar yang paling diutamakan adalah warga terdampak. Kita harus hadir bersama mereka, memastikan kehidupan mereka tetap berjalan dan memberikan semangat agar bisa bangkit lebih cepat,” tuturnya.
Baca Juga:
Mayoritas DPD II Tetap Solid ke Appi, Diskresi IAS Dinilai Tak Berpengaruh
Pemkot Makassar dan Pengadilan Agama Siapkan Perwalian Resmi bagi Anak Panti Asuhan
Usai Penertiban, Pemkot Makassar Benahi Trotoar Jalan Tinumbu
Dalam kesempatan itu, Fadli turut menekankan pentingnya penguatan mitigasi bencana hingga tingkat kecamatan. Ia berharap setiap wilayah memiliki tim yang mampu meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi potensi bencana.
“Kesiapsiagaan adalah kunci dalam penanggulangan bencana. Kita tahu bencana pasti datang, tetapi kita tidak pernah tahu kapan. Karena itu yang harus dilakukan adalah mempersiapkan masyarakat agar siap menghadapi setiap kemungkinan,” ungkapnya.
BPBD bersama Dinas Pemadam Kebakaran dan Dinas Sosial terus melakukan edukasi kepada masyarakat melalui pembentukan komunitas dan kelompok siaga bencana. Upaya tersebut bertujuan meningkatkan pemahaman warga tentang pencegahan, mitigasi, dan penanganan bencana secara mandiri.
“Kami terus turun ke masyarakat untuk memberikan pemahaman tentang kesiapsiagaan dan pencegahan bencana. Sebab, selain faktor alam, banyak bencana juga dipengaruhi oleh kelalaian manusia. Karena itu masyarakat harus menjadi subjek yang aktif dalam upaya pengurangan risiko bencana,” pungkas Fadli. (*)








