Hoax di Medsos, banyak menghakimi tanpa Penguasaan Ilmu Pengetahuan

- Pewarta

Minggu, 17 Mei 2026 - 19:18 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MAKASSARTIME.COM– Hari ini manusia hidup di zaman yang aneh. Kebohongan bisa tampil lebih meyakinkan daripada kebenaran. Fitnah bisa menyebar lebih cepat daripada klarifikasi. Dan manusia terkadang lebih percaya pada sesuatu yang viral daripada sesuatu yang benar.

Inilah tragedi besar peradaban modern, dimana hoaks dan berita bohong telah berubah menjadi senjata sosial, senjata politik, bahkan senjata psikologis untuk menggiring opini, menghancurkan kehormatan, memecah persaudaraan, dan membentuk kebencian massal.

Yang lebih berbahaya, hoaks hari ini tidak selalu datang dengan wajah kasar. Ia sering tampil dengan bahasa moral, dibungkus dalil, diselimuti narasi kepedulian, bahkan dikemas seolah-olah sedang membela agama dan kebenaran. Padahal sesungguhnya ia sedang menyebarkan prasangka, mengadu domba, dan membunuh karakter seseorang secara perlahan.

Inilah sebabnya Islam sangat keras terhadap penyebaran berita bohong. Karena dusta bukan sekadar kesalahan lisan, tetapi pengkhianatan terhadap amanah kebenaran. Ketika seseorang menyebarkan informasi tanpa tabayyun, sesungguhnya ia sedang mempertaruhkan kehormatan orang lain demi kepuasan emosinya sendiri.

Hari ini media sosial telah melahirkan banyak “hakim tanpa ilmu.” Orang mudah menuduh tanpa bukti. Mudah menghina tanpa memahami. Mudah menyerang tanpa berpikir panjang. Bahkan terkadang seseorang merasa dirinya paling benar hanya karena didukung oleh keramaian komentar dan banyaknya orang yang ikut membagikan narasi yang sama.

Padahal banyak manusia hancur bukan karena kesalahannya, tetapi karena opini yang dibangun tentang dirinya. Banyak persaudaraan retak bukan karena fakta, tetapi karena prasangka yang terus dipelihara. Dan banyak masyarakat terpecah bukan karena perbedaan, tetapi karena kebohongan yang diulang terus-menerus hingga dianggap sebagai kebenaran.

Inilah bahaya terbesar hoaks, ia membunuh akal sehat, merusak nurani, dan mematikan rasa keadilan. Lebih menyedihkan lagi, sebagian manusia menikmati penyebaran berita bohong seperti menikmati hiburan. Aib orang lain dijadikan tontonan. Kesalahan seseorang dijadikan konsumsi publik. Kebencian dipelihara demi popularitas dan kepentingan kelompok. Padahal setiap kata yang disebarkan bukan hanya meninggalkan jejak digital, tetapi juga jejak dosa yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT.

Dalam Islam, menjaga lisan dan tulisan adalah bagian dari menjaga iman. Sebab fitnah yang keluar dari mulut dan jari manusia bisa lebih tajam daripada luka senjata. Hoaks mampu menghancurkan reputasi, menghilangkan kepercayaan, memecah keluarga, merusak lembaga, bahkan mengguncang stabilitas masyarakat.

Karena itu, Islam mengajarkan tabayyun, kejujuran, dan kehati-hatian sebagai bentuk kematangan moral dan spiritual. Tidak semua yang didengar harus disampaikan. Tidak semua yang diketahui harus diumbar. Dan tidak semua yang ramai berarti benar.

Hari ini dunia tidak kekurangan orang cerdas, tetapi kekurangan manusia yang jujur. Tidak kekurangan informasi, tetapi kekurangan kebijaksanaan. Banyak manusia pandai berbicara tentang moralitas, tetapi gagal mengendalikan hawa nafsu ketika membenci seseorang.

Padahal kedewasaan sejati bukan terletak pada kemampuan menyerang, tetapi kemampuan menahan diri. Bukan pada keberanian menyebarkan berita, tetapi keberanian menjaga amanah kebenaran.

Maka sebelum menyebarkan informasi, tanyakan pada hati nurani,

apakah ini benar?, apakah ini bermanfaat?, mapakah ini akan melahirkan kedamaian atau justru kerusakan?

Sebab bisa jadi satu pesan yang dianggap sepele di dunia, menjadi beban yang sangat berat di akhirat. Dan sesungguhnya, kehormatan manusia jauh lebih mahal daripada sensasi, sementara kejujuran jauh lebih mulia daripada kemenangan yang dibangun di atas kebohongan.

Menyebarkan Hoax di dunia Maya dan orang percaya maka bedosalah di dunia dan akhirat bagi mereka yang membuatnya.

Berita Terkait

Ketika Masjid Hidup, Remaja Menemukan Arah: Solusi Moral atas Kenakalan Remaja
Menyembelih Kenyamanan Instan Demi Keselamatan Bumi
Ketika Keramaian Tak Lagi Meninggalkan Sampah
Pengelolaan Sampah Berkelanjutan Jadi Fokus Masa Depan Ekologi Makassar
Makassar Bangun Masa Depan Kota Lewat Kesadaran Lingkungan
Keyhole Garden dan Lorong-Lorong yang Kembali Bernapas
‘Pisai Sampahta, Tanami Tanata’ Dorong Perubahan Pengelolaan Sampah di Makassar
Dari Sampah ke Kehidupan, Urban Farming sebagai Jalan Keluar Krisis Ekologi Kota Makassar

Berita Terkait

Jumat, 29 Mei 2026 - 10:01 WIB

Ketika Masjid Hidup, Remaja Menemukan Arah: Solusi Moral atas Kenakalan Remaja

Rabu, 27 Mei 2026 - 08:30 WIB

Menyembelih Kenyamanan Instan Demi Keselamatan Bumi

Senin, 25 Mei 2026 - 07:00 WIB

Ketika Keramaian Tak Lagi Meninggalkan Sampah

Selasa, 19 Mei 2026 - 21:09 WIB

Pengelolaan Sampah Berkelanjutan Jadi Fokus Masa Depan Ekologi Makassar

Minggu, 17 Mei 2026 - 19:18 WIB

Hoax di Medsos, banyak menghakimi tanpa Penguasaan Ilmu Pengetahuan

Berita Terbaru

Info Makassar

MHM 2026 Siap Digelar, Wali Kota Makassar Sambut 12.400 Peserta

Kamis, 28 Mei 2026 - 20:59 WIB